LieKlenteng atau Kelenteng adalah sebutan untuk tempat
ibadah penganut kepercayaan tradisional Tionghoa di Indonesia pada
umumnya. Dikarenakan di Indonesia, penganut kepercayaan tradisional
Tionghoa sering disamakan sebagai penganut agama Konghucu , maka
klenteng dengan sendirinya disamakan sebagai tempat ibadah agama
Konghucu.
Klenteng juga disebut sebagai bio yang merupakan dialek
Hokkian dari karakter 廟 (miao). Ini adalah sebutan umum bagi klenteng
di Cina.
Pada mulanya 廟 "Miao" adalah tempat penghormatan pada
leluhur 祠 "Ci" (rumah abuh). Pada awalnya masing-masing marga membuat
"Ci" untuk menghormati para leluhur mereka sebagai rumah abuh. Para
dewa-dewi yang dihormati tentunya berasal dari suatu marga tertentu
yang pada awalnya dihormati oleh marga/family/klan mereka. Dari
perjalanan waktu maka timbullah penghormatan pada para Dewa/Dewi yang
kemudian dibuatkan ruangan khusus untuk para Dewa/Dewi yang sekarang
ini kita kenal sebagai Miao yang dapat dihormati oleh berbagai macam
marga, suku. Saat ini masih di dalam "Miao" masih juga bisa ditemukan
(bagian samping atau belakang) di khususkan untuk abuh leluhur yang
masih tetap dihormati oleh para sanak keluarga/marga/klan
masing-masing. Ada pula di dalam "Miao" disediakan tempat untuk
mempelajari ajaran-ajaran/agama leluhur seperti ajaran-ajaran Konghucu,
Lao Tze dan bahkan ada pula yang mempelajari ajaran Buddha.
Miao - atau Kelenteng (dalam bahasa Jawa) dapat
membuktikan selain sebagai tempat penghormatan para leluhur, para Suci
(Dewa/Dewi), dan tempat mempelajari berbagai ajaran - juga adalah
tempat yang damai untuk semua golongan tidak memandang dari suku dan
agama apa orang itu berasal.
Saat ini Miao (Kelenteng) bukan lagi milik dari marga, suku, agama,
organisasi tertentu tapi adalah tempat umum yang dipakai bersama.
Klenteng adalah sebutan umum sehingga klenteng sendiri terbagi atas beberapa kategori:
1. Konghucu:
a. Litang (禮堂)
b. Ci (祠)
2. Taoisme:
a. Gong (宮)
b. Guan (觀)
c. Miao (廟)
3. Buddhisme:
a. Si (寺)
b. An (庵)
QING-MING (CENG BENG)
Qing ming (ceng beng) dirayakan setiap tanggal 5 April. Pada tanggal
ini orang-orang biasanya melakukan bersih-bersih terutama di makam
keluarga.
Pada jaman dulu perayaan Qing-ming didahului oleh Han-shi-jie (perayaan
makan dingin) yang ditandai dengan pati-geni (tak menyalakan api),
makan sayur dan nasi dingin. Upacara ini untuk memperingati seorang
negarawan setia zaman Zhan-guo bernama Jie Zi-tui yang konon meninggal
secara tragis karena kebakaran hutan. Kebiasaan ini bermula dari
wilayah Tai-yuan di China utara, karena makanan utama daerah ini adalah
gandum. Di wilayah Fujian, terutama Tong’an, dan Jinmen, makanan utama
yang disajikan pada perayaan ini adalah chun-jian (atau run-bing,
yaitu lunpia).
Di samping sembahyang di kelenteng leluhur dan kepada para shenming,
kegiataan utama adalah menyambangi kubur. Sejak dinasti Han,
sembahyang di kelenteng dan makam keluarga sama pentingnya. Tapi bagi
rakyat jelata karena umumnya tidak punya kelenteng leluhur, sembahyang
kubur menjadi yang utama.
Upacara di kuburan biasanya diawali dengan menggantung kertas atau
menindih kertas (gua-zhi atau ya-zhi), kemudian bersembahyang kepada Roh
Bumi (Hou-tu atau Fu-shen). Lalu mulailah sembahyang yang sebenarnya,
dengan sesajian sederhana yaitu hoatkwee, miku dan lain-lain.
Kalau kebetulan habis menyelenggarakan pesta pernikahan, atau ada
penambahan anggota keluarga, atau harus melakukan perbaikan kubur
(xiu-mu atau pei-mu), maka sesaji harus ditambah 12 mangkok lagi,
terutama ‘sayur asin’ dan ‘kering’.
Setelah bersembahyang harus membakar uang perak atau membakar
petasan, kadang-kadang juga menggantung lentera merah (tian-deng atau
tian-ding) apabila di keluarga tersebut lahir anggota baru. Setelah
upacara selesai lentera itu dibawa pulang.
Sesudah sembahyang kubur, tetap harus mengadakan sembahyang di
rumah, di altar keluarga (kong-po), lalu diadakan makan bersama antar
anggota keluarga, dan barang-barang sesaji dari sembahyang kubur,
seperti miku dan hoatkwee, dibagi-bagi diantara mereka semua dan dibawa
pulang ke rumah masing-masing.
Adapula segolongan orang yang tidak merayakan sembahyang kubur pada
hari Qingming, melainkan pada tanggal 3 bulan 3 (imlik). Umumnya
golongan ini berasal dari Zhang-zhou. Mereka mengikuti tradisi yang
dipakai oleh Zheng Cheng-gong.
Di Indonesia, sepuluh hari sebelum atau setelah Qingming, boleh dilakukan sembahyang kubur.
YUAN-XIAO (CAP GO MEH)
Capgomeh secara umum disebut Goan-siau (yuan-xiao) atau lengkapnya
Cap-go-siang-goan-meh (shi-wu shang-yuan-ming), yaitu tanggal-15 bulan-1
Imlek Ketika kita membalas hormat kepada orang yang menyampaikan
salam dengan sikap Pak Tik, sikap hormat yang kita berikan sebagai
balasannya dinamakan sikap Poa Thay Kik Pak Tik (Delapan Kebajikan
Pelambang Hidup). Sikap ini memunyai perlambang dan makna yang sama
dengan sikap Poa Sim Pak Tik. Perbedaan hanya sedikit pada cara waktu
menyampaikannya saja, yaitu telapak tangan kiri membuka rapat, lalu
dirangkapkan dengan telapak tangan kanan mengepal rapat, kedua ibu jari
dipertemukan sehingga membentuk huruf Zen, dan kemudian dilekatkan
pada bagian ulu hati.
adalah penutup dalam rangkaian perayaan sin-cia. Dalam Daoisme
perayaan ini disebut Shang-yuan untuk merayakan salah satu dari
san-guan Da-di yaitu Tian-guan. Pada hari itu mereka mengharap berkah
dari Tian-guan (shang-yuan tian-guan ci-fu). Sebab itu pada beberapa
keleteng pada malam itu menyuruh seorang berpakaian seperti Tian-guan,
lalu membagikan angpao pada para pengunjung. Tapi kemudian acara seperti
ini diadakan setiap ada perhelatan di kelenteng, sehingga makna
sesungguhnya terlupakan.
Perayaan ini telah dilakukan sejak dinasti Han. Dan pada jaman Tang
dan Song menjadi lebih semarak lagi karena dimeriahkan dengan pesta
lampion. Bangsawan dan orang kaya di kota – kota berlomba – lomba
memasang lampion untuk memamerkan gengsinya. Mereka juga meluapkan
kegembiraan karena negeri mulai aman dengan berdirinya kerajaan atau
dinasti baru. Pada masa itu pesta lampion berlangsung sampai 5 hari.
Sebab itu pesta ini juga dinamai Deng-jie (‘festival lampion’).
Perayaan cap-go-meh berpusat di kelenteng dan di berbagai kota di
Indonesia, hari itu biasanya dimeriahkan dengan kirab Toapekong. Acara
ini di Jakarta dipusatkan di kelenteng Toa See Bio. Glodok. Selain
kesenian tradisional seperti barongsai, liong dan cenggay, juga
melibatkan unsur – unsur budaya Betawi, seperti ondel-ondel, gambang
kromong, tanjidor dan lain – lain, sehingga menjadi pawai budaya yang
multi-kultural. Acara kirab ini juga dilakukan di kota-kota seperti
Bogor, Tegal, Lasem dan Singkawang.
Saat Cap-go-meh biasanya diadakan acara khas kaum muda. Di Fujian dan
Taiwan ada kebiasaan kaum muda untuk bersembahyang pada Zi-gu, memohon
agar dirinya dianugerahi ketrampilan yang sangat diperlukan untuk
mengarungi lautan kehidupan. Permohonan ini hamper sama yang dilakukan
pada hari raya 7-7 malam kepada Zhi-nu. Konon Zigu adalah seorang gadis
yang sangat cerdas dan cekatan serta banyak memiliki ketrampilan. Ia
meninggal karena terjerumus di lubang kakus yang sengaja dibuat untuk
membunuhnya. Di Taiwan Zigu sering disebut Dong-sheng-gu. Persembahan
pada Zigu biasanya terdiri dari buah-buahan dan sayur-sayuran serta
sepasang sepatu sulam. Doa kaum remaja terutama wanita tentu saja berisi
permohonan yang berbeda-beda, tapi intinya mohon agar dibekali atau
ditingkatkan ketrampilannya, supaya dalam pekerjaanya bisa memperoleh
hasil yang memadai.
ASAL-USUL LAMPION
Lampion atau Teng Lo Leng atau Teng Lung, pada awalnya dipakai pada
saat ronda malam untuk mencari buronan kejahatan, biasanya lampion
ditambah tulisan mandarin dan berwarna merah.
Biasanya digunakan di klenteng pada waktu tanggal 15 bulan 7 dan
imlek, unutuk tanggal 15 bulan 7 (Cio Ko) biasanya dipakai lampion
warna putih untuk penerangan para arwah, sedangkan untuk imlek dipakai
warna merah.
Salah satu cerita mengenai asal- usul lampion:
Pada zaman dinasti Ming, ada perampok yang budiman dengan nama Lie Cu
Seng di kota Kaifeng, dia biasanya merampok ke orang kaya untuk
dibagikan ke orang miskin, dan Lie Cu Seng juga mempunyai gerombolan
anak buahnya.
Pada suatu saat dia berencana untuk menyerang kota raja, sebelum
melaksanakannya dia mensurvey terlebih dahulu, dan dia mendapat bahwa
persepsi / pandangan masyarakat tentang kelompoknya negative atau
kejam, Lie Cu Seng menjadi bingung dan unutuk merubah nama buruknya,
dia berpura-pura jadi rakyat dan memberi pengumuman bahwa jangan
percaya berita tersebut, dia menyuruh semua rakyat miskin untuk
menggantung lampion di depan rumahnya maka perompak akan memberikan
hasil rampokkannya, dan pada malam harinya dia merampok orang kaya dan
membagikannya di rumah-rumah yang terdapat lampion.
Sejak saat itu lampion menjadi terkenal, sebagai rasa terima kasih
kepada Lie Cu Seng rakyat memasang lampion, dan pada akhir tahun baru
masyarakat juga memasang lampion sebagai tanda mohon berkah, Ping An di
akhir tahun baru.
ASAL-USUL PERMAINAN LIONG SAMSI/ BARONGSAI
Permainan Liong Samsi atau yang lebih di kenal dengan permainan
barongsai. Permainan ini biasanya ditampilkan untuk acara ritual seperti
Yuan Xiao Ci (Cap Go Meh) dan ritual hari kebesaran Dewa-Dewi, tetapi
akhir-akhir ini permainan ini sering ditampilkan hampir di setiap
event.
Karena ketakutannya seorang kaisar akan adanya pemberontakan yang
dilakukan para pendekar untuk mejatuhkan dirinya, maka kaisar menyuruh
pembunuh bayaran untuk semua orang yang pandai dan bisa kung fu. Bahkan
Shaolin sebagai pusatnya kungfu di Cina juga tidak terlepas dari
tragedi tersebut Pembunuhan para pendekar-pendekar tersebut terjadi
secara besar-besaran. Banyak pendekar yang telah meninggal serta ada
yang lari menyelamatkan diri.
Para pendekar-pendekar tersebut berencana melakukan kudeta kepada
kaisar demi membalas dendam teman-teman, guru dan perguruan mereka yang
telah dibunuh dan dihancukan oleh sang kaisar.Para pendekar tersebut
sadar bahwa kekuatan mereka saat ini belum mencukupi untuk melakukan
kudeta. Sambil menunggu waktu yang tepat untuk melakukan kudeta, para
pendekar tersebut mulai merekrut orang-orang yang sepaham dengan
mereka. Kemudian oleh para pendekar, orang-orang tersebut dilatih kung
fu.
Pada suatu saat sang kaisar mengadakan perayaan secara
besar-besaran, kaisar mengundang seluruh kesenian yang ada di Cina
untuk menghibur kaisar.
Kesempatan ini digunakan oleh para pendekar untuk “mempertunjukan
kebolehannya”. Rakyat Cina menganggap bahwa Naga merupakan “raja” dari
segala binatang dan Harimau merupakan penguasa tertinggi di daerahnya,
kaisar diibaratkan sebagai Naga dan Harimau. Maka para pendekar untuk
“menghormati” kaisar menggunakan “Harimau-harimau”an dan “Naga-Naga”an.
Kaisar tidak menyadari bahwa dirinya terancam karena “Harimau” dan
“Naga “.
Usaha yang lakukan oleh para pendekar tersebut melalui “Harimau” dan
“Naga” membuahkan hasil. Kaisar bersama para staffnya tersingkir. Guna
memperingati keberhasilan tersebut serta ucapan terima kasih atas
bantuan Dewa-Dewi maka setiap ada acara hari kebesaran Dewa-Dewi
permainan “Naga” dan “Harimau” selalu ditampilkan bersama dengan
kesenian yang lain.
SIN CIA atau TAHUN BARU IMLEK
Tahun Baru Imlek atau Sin Cia jatuh bertepatan dengan datangnya musim
semi. Saat ini merupakan awal kegairahan hidup baru untuk setahun
mendatang, setelah tiga bulan sebelumnya dirundung kegelapan dan
kedinginan selama musim dingin berlangsung. Maka dari itu Tahun Baru
Imlek disebut juga Pesta Musim Semi.
Seminggu sebelum Sin Cia tiba, upacara sembahyang sudah resmi
dimulai. Pada hari itu, Dewa Dapur (Ciao Kun Kong) berangkat menuju
kelangit untuk melapor kepada Tuhan mengenai hal ikhwal penghuni rumah
selama satu tahun. Keberangkatannya didahului dengan persembahyangan di
altar Dewa Dapur di rumah penghuni yang bersangkutan.
Empat hari sesudah Sin Cia juga diadakan persembahyangan untuk
menyambut Dewa Dapur yang turun kembali ke Bumi. Puncak dan sekaligus
akhir acara perayaan Sin Cia terjadi pada tanggal 15 bulan 1 (imlek)
atau Cia Gwe Cap Go. Pesta ini dikenal dengan nama Cap Go Meh yang
berarti malam tanggal lima belas, merupakan malam pertama dapat
disaksikannya bulan bundar penuh dalam tahun baru.
Bagi umat Tridharma, Sin Cia merupakan awal tahun yang sangat
menentukan. Pada hari itu semua kegiatan sehari-hari dihenntikan, guna
menjalankan sembahyang Sin Cia terhadap arwah leluhur. Keluarga yang
masih memelihara meja abu melakukan sembahyang di hadapan meja abu
tersebut. Bagi keluarga yang tidak lagi memelihara abu leluhur cukup
meletakkan sebuah meja menghadap pintu muka rumahnya dan di atas meja
ini persembahyangan dilakukan.
Sembahyang Sin Cia berlangsung mulai senja hari di malam sin cia,
dan kemudian diulang lagi pada saat tepat pergantian tahun jam 24.00.
Persembahan yang dipersiapkan untuk sembahyang selama merayakan sin
cia, selain makanan dan buah-buahan seperti biasa, juga di tambah
dengan kue khusus tahun baru yang di kenal dengan sebutan “kue
keranjang”. Juga disebut kue keranjang Karena kue itu di buat dalam
keranjang-keranjang bulat berbagai ukuran, terbuat dari tepung ketan
dicampur gula merah dengan bungkus daun pisang atau kertas / plastic.
Pada saat Sin Cia, setelah kita melaksanakan persembahyangan kepada
orang tua / Leluhur yang telah meninggal dunia, para suci, para
bijaksana para Bodhisatva, dan para Budha, serta pula kepada Tuhan,
biasanya yang muda mengunjungi yang lebih tua untuk memberikan selamat
Tahun Baru dengan menggunakan sikap Poa Sim Pa Tik (Delapan kebajikan
mendekap di hati) atau singkatnya disebut Pak Tik( Delapan Kebajikan).
Ang Pao yang banyak bemunculan saat Tahun baru imlek atau Sin Cia
ini merupakan simbol “mudah rejeki”, semoga tahun baru ini akan
memperoleh rejeki yang lebih mudah.
Sikap Pak Tik ini dilakukan dengan cara sebagai berikut: telapak
tangan kanan membuka rapat, lalu di rangkap dengan telapak tangan kiri
yang mempertemukan kedua ibu jari dan kemudian dilekatkan pada bagian
ulu hati. Ibu jari kanan melambangkan “ibu” sedangkan ibu jari kiri
melambangkan “ayah”. Pertemuan kedua ibu jari membentuk huruf Zen yang
berarti manusia. Pertemuan antar kedua ibu jari, dan kedua telapak
tangan melambangkan “Thian”. Dilekatkan pada bagian ulu hati
melambangkan “selalu ingat”.
Jadi sikap Pak Tik ini bermakna “Aku selalu ingat akan Thian yang
dengan perantara ayah dan ibu telah menjadikan diriku sebagai manusia.
Sebagai sesama aku akan mengamalkan delapan kebajikan kepada sesama”.
Ajaran delapan kebajikan (Pak Tik) yang telah disampaikan oleh Nabi Agung Khong Hu Cu kepada kita adalah sebagai berikut:
Hauw (Laku Bakti),
Tee (Rendah Hati),
Tiong (Setia),
Sin (Jujur) ,
Lee (Kesusilaan),
Gie (Kebenaran),
Lhiam (Suci Hati), dan
Thi ( Tahu Malu).
Tampilkan postingan dengan label Tridharma. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tridharma. Tampilkan semua postingan
Jumat, 24 Februari 2012
Sabtu, 18 Februari 2012
Agama Tridharma: Buddha, Tao dan Konghucu -Sebuah Latar Belakang
I. Sejarah Singkat
a. Agama Buddha dan Ajarannya
Kira-kira 2520 tahun yang lalu di kota Kapilawastu, daerah
Madyadesa India Utara (kini republik Nepal) Sidharta Gautama lahir. Nama
Sidharta mempunyai arti “Yang terkabul cita-citanya.” Ayahnya adalah
seorang raja dari dinasti Sakya, namanya Suddhodana dengan permaisurinya
yang bernama Mahamaya. Kelahiran Sidharta diceritakan bukan dengan cara
biasa, menurut kepercayaan agama Budha Mahamaya bermimpi ada seekor
gajah putih bertaring 4 dan sebuah bintang bersudut 6 yang bersinar
terang jatuh dari langit turun kedalam perutnya. Sayangnya tidak lama
setelah kelahiran Sidharta, ibunya meninggal pada hari ke-7
Sejak berumur 7 tahun Sidharta suka bertapa salah satunya Jhana pertama.
Hal itu membuat ayahnya khawatir dan memanggil para Brahmana. Para
Brahmana mengatakan bahwa pangeran Sidharta akan meninggalkan
kedudukannya sebagai putera mahkota dan menjadi seorang Budha.[3]
Tanda-tanda ketika waktu itu tiba: pertama, dia melihat orang yang
telah lanjut usia; kedua, dia akan melihat orang sakit; ketiga, dia akan
melihat orang yang meninggal[4] Singkat cerita ramalan itu terbukti benar. Sidharta kemudian mencari jawaban atas kehidupan manusia.
Pada usia ke 35 tahun Sidharta mencapai penerangan sempurna di bawah
Pohon Bodhi, Bodh-Gaya. Kemudian setelah mencapai kesempurnaan, dia
mulai mengajarkan ajarannya untuk pertama kali di Isipathana dekat
Benares kepada lima orang pertapa. Ajarannya pertama kali disebut Cattur
Arya Sattyani (empat kesunyataan mulia) dan Hasta Arya Marga (delapan
jalan utama).[5] Empat kesunyataan mulia diungkapkan sebagai berikut:[6]
1. Semua bentuk kehidupan adalah penderitaan (Dukkha).
2. Penderitaan disebabkan oleh nafsu atau keinginan yang rendah (Tanha).
3. Dengan lenyapnya Tanha lenyap pula Dukkha dan itulah Nirwana.
4. Cara atau jalan untuk melenyapkan Dukkha adalah delapan jalan utama.
Delapan jalan utama itu, adalah:[7]
1. Pengertian yang benar.
2. Pikiran yang benar.
3. Ucapan yang benar.
4. Perbuatan yang benar.
5. Mata pencaharian yang benar.
6. Daya upaya yang benar.
7. Perhatian yang benar.
8. Konsentrasi yang benar.
Menurut kepercayaan pengikut agama Buddha peristiwa ini dikenal sebagai
hari suci Asadha. Di kemudian hari Sidharta memaparkan ajarannya sebagai
Mahjima Pattipada atau jalan tengah. Jalan tengah mempunyai pengertian
menghindari dua hal yang ekstrem yaitu: hidup dengan berfoya-foya dan
bersenang-senang, memuaskan nafsu inderanya secara berlebihan, dan
bersifat rendah Manfaat jalan tengah tersebut menurut pengikut Buddha:
memberikan kedamaian, pengetahuan, penerangan, melenyapkan kebodohan,
nafsu jahat dan serakah yang merupakan sumber dari penderitaan.[8]
b. Agama Tao dan Ajarannya
Pendiri agama Dao adalah Lao Tze. Sedangkan kitab sucinya Tao-Tse-Djing.
Hingga kini tidak ada kesepakatan tentang sejarah kehidupan tokoh
Lao-Tze. Salah satu acuan dalam riwayat hidup Lao Tze sendiri didapatkan
dari tulisan sejarah Sma Tjhien (Sima Yin) pada abad pertama sebelum
masehi.[9] Menurut sejarah yang disusun Sima Yin, Lao-Tse adalah orang dari desa Tjhii-ren, kecamatan Lai, kabupaten Khu, Negara Tjhuu. Nama pribadinya adalah Er, alias Tan dan nama keluarganya adalah Li. Ia menjabat pengurus arsip kerajaan Tjou.[10] Ada dua bagian dalam kitab Tao-Tse-Djing, yaitu Shang-sia-phien (Baca. Bagian pertama dan kedua). Ajarannya disebut Tao. Istilah Tao lazimnya berarti suatu jalan atau suatu cara bertindak.[11] Tao merupakan bahan dasar yang menyusun segala sesuatu. Tao bersifat sederhana tanpa bentuk tanpa upaya berpuas diri sepenuhnya. Tao sudah ada sebelum adanya langit dan bumi.[12]
Dalam proses sejarah waktu manusia makin jauh dari keadaannya yang
sempurna. Kitab Lao Tse yang dikenal sebagai kitab Tao-Tse-Djing juga
mengajarkan Te. Istilah Te tidak dapat diidentikan
dengan ‘kebajikan’ seperti yang digunakan oleh para penganut agama
KongHuCu. Karena Lao Tze sendiri mengacu istilah Te untuk
mengacu kepada sifat-sifat atau kebajikan yang alami, naluriah, asli,
yang dilawankan dengan sifat-sifat atau kebajikan yang diberikan pekokoh
sosial atau pendidikan.[13]
Asas dasar Taoisme: “Bahwa seharusnya manusia menyelaraskan diri dan tidak menentang hukum-hukum hakiki alam semesta.”[14]
Segenap lembaga buatan atau segenap upaya adalah hal-hal yang salah.
Bahwasanya segenap upaya adalah salah tidaklah berarti bahwa segenap
kegiatan adalah salah, melainkan bahwa memaksakan diri mengusahakan
sesuatu yang berada diluar jangkauan merupakan suatu kekeliruan.[15] Mereka yang memahami akan nasib tidak akan mengupayakan sesuatu yang berada diluar jangkauan pengetahuan[16]
Maka yang hakiki ialah pandangan kedepan, pertimbangan serta
pertimbangan secara bijak, mengenai mana yang dapat dikerjakan serta
cocok, dan mana yang baik.[17] Selain kitab Tao-Tse-Tsing ada tulisan lain oleh tentang Taoisme.[18]
Kitab itu disebut Chuang Tsu yang ditulis oleh Chuang Tsu. Kitab itu
mengajarkan bahwa hidup ini nisbi. Nisbi ini berlaku dalam masalah
kesusilaan. Kitab Chuang Tsu mengatakan:
Gerak langit dan bumi berjalan menurut tatanan yang mengagumkan, namun
tidak pernah memperkatakannya. Keempat macam musim melihat adanya
hukum-hukum yang jelas, namun tidak membicarakannya. Segenap alam diatur
oleh asas-asas yang cermat, namun dia tidak pernah menerangkannya.
Manusia bijaksana menembus rahasia tatanan langit dan bumi, dan memahami
sepenuhnya asas-asas alam. Demikianlah manusia sempurna tidak berbuat
apapun, dan manusia besar yang bijaksana tidak menimbulkan apapun.
Artinya, mereka sekedar merenungi alam semesta.[19]
Maka, hal yang menjadi prinsip dasariah adalah Wu Wei (Jangan
Berbuat Apapun). Hal ini merupakan perintah termashyur bagi penganut
Taoisme. Hal ini tidak berarti manusia bersikap pasif. Namun diharapkan
manusia tidak berbuat yang tidak alami atau yang tidak serta merta. Yang
pokok adalah tidak memaksakan diri melakukan apapun yang diluar
kemampuan. Contoh:
Pemanah. Jika kita melakukan lomba memanah dengan memaksakan diri untuk
mendapatkan hadiah sekeping emas dan tidak menghasilkan apa-apa. Namun
lebih baik bersikap santai dan mahir jika ketepatan tembaknya tidak
menghasilkan apapun.[20]
Taoisme menggarisbawahi unsur yang bersifat tidak sadar, intuituf, serta merta.[21] Taoisme mengajarkan bahwa hidup ini sudah diatur dan tidak perlu mengkhawatirkan apa yang harus kita kerjakan. Prinsip Wu Wei dilambangkan dengan Yin Yang. Yin Yang adalah simbol bagi penganut ajaran Tao.
c. Agama KongHuCu dan Ajarannya.
Agama KongHucu memiliki istilah asli yaitu Ru Jiao yang berarti agama daripada kaum yang taat, yang lembut hati, yang beroleh bimbingan atau terpelajar.[22] Istilah KongHuCu dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Inggris Confucianism, alasan sarjana Barat tidak menggunakan istilah Ru Jiao adalah karena peran Nabi Kongzi di dalam kitab Ru Jiao. Hal ini mungkin terasa janggal karena lewat sejarah diketahui bahwa kitab Ru Jiao sudah ada jauh sebelum Kongzi (Konfusius) lahir.[23]
Kitab suci agama KongHuCu merupakan kanonisasi dari kitab-kitab dan
dokumen-dokumen sejarah yang ada sebelumnya. Yang paling tua ditulis
oleh Raja Tang Yao (2357-2255 S.M.), Yu Shun (2255-2205 S.M.),
Mengzi/Mencius (371-289 S.M.).[24] Maka Kongzi pernah mengatakan:
Aku hanya meneruskan, tidak menciptakan. Aku sangat menaruh percaya dan
suka kepada ajaran dan kitab-kitab kuno itu. Di dalam diam melakukan
renungan, belajar tidak merasa jenuh, dan mengajar orang lain tidak
merasa capai.[25]
Ru Jiao disempurnakan dan digenapkan oleh Tian, Agama yang dibawakan oleh nabi Kongzi yang telah diutus dan dipilihnya, sebagai Mu Duo
atau genta rohaninya mengembalikan dunia kepada jalan suci/ sabda suci
dan ditutup oleh ajaran Mengzi yang mengerakkan dan meluruskan jalan
penafsiran dan pelaksanaan ajaran KongHuCu. Menurut Tjhie Tjay Ing,
proses ajaran Mu Duo, sebagai berikut:[26]
Jalan Suci (Dao) yang dibawakan Ru Jiao atau agama Khonghucu yang tertulis di ayat terakhir kitab suci Si Shu atau Mengzi VII B: 38 “dari yao dan shun sampai cheng tang Sing Thong yang kurang lebih selisih waktunya 500 tahun; orang-orang seperti Yu dan GaoYao/Koo Yao masih dapat langsung dapat mengenalnya (dari sumbernya langsung), tetapi Cheng Tang mengenalnya hanya karena mendengar lisan. Dari Cheng Tang sampai raja Wen/Bun lebih kurang 500 tahun jarak waktunya; orang-orang seperti Yi Yin/I Ien dan Laizhu/Laycu masih dapat mengenalnya tetapi raja suci Wen hanya bisa mendengarnya, dari raja wen sampai nabi Kongzi juga selisih jaraknya 500 tahun; orang-orang seperti Taigong Wang/Thaikong dan Sanyisheng/ San Gi Shing masih dapat langsung mengenalnya, tetapi nabi Kongzhi mengenal hanya dengan mendengar. Dari saat nabi Kongzhi hidup, walaupun baru 100 tahun tidak ada yang meneruskannya (Ajaran Jalan Suci). Tetapi Han Yu/Han Ji pada 768-824 masehi meneruskannya dan ia dijuluki bapak kebangkitan Neo-Konfucianisme
yang hidup pada jaman dinasti Tang/Tong (618-905 masehi), dalam salah
satu karya tulisnya menegaskan: “Adapun jalan suci itu ialah yang
diteruskan Yao kepada Shun; Shun pada Yu; Yu kepada Cheng Tang; Cheng
Tang kepada raja suci Wen, raja Wu dan nabi Zhougong dan Ciukong Tan;
raja Wen, raja wu, dan nabi Zhougong dan kepada Nabi Kongzi dan nabi
Kongzi kepada Mengzi.
Konfusius memiliki golden rule, dalam mendefiniskan keadaan
timbal balik: “Tidak mengerjakan hal-hal kepada orang lain, yang kita
sendiri tidak menginginkan mereka mengerjakan hal-hal tersebut kepada
kita.[27] Konfusius sangat menekankan pendidikan kepada orang-orang banyak. Selain Chun Tzu (orang baik-baik),[28]
masyarakat kelas bawah juga dapat dididik untuk memperoleh pengetahuan.
Konfusius berpendapat: “Tidak seorangpun dapat dipandang sebagai
seorang Chun Tzu atas dasar keturunan; ini semata-mata merupakan masalah
prilaku dan watak.”[29] Inilah yang menjadi landasan bahwa Konfusius sangat menekankan pendidikan dengan dasar Li atau kepantasan-kepantasan dalam bersikap dan bertindak
II. Hadirnya Agama Tridharma di Yogyakarta
Tridharma adalah tempat ibadah dari 3 agama yang menjadi satu, sedangkan agamanya sebenarnya tidak bergabung.[30]
Sebenarnya awalnya ada dua tempat ibadah agama Tridharma, yaitu
Klenteng “Kwan Tee Kiong” di jalan Poncowinatan dan Klenteng “Hok Ling
Bo” di jalan Gondomanan. Namun yang tetap mempertahankan status
ke-”Tridharmaannya” adalah klenteng Kwan Tee Kiong. Sejarahnya adalah
sebagai berikut:[31]
Klenteng Kwan Tee Kiong atau Cing Ling Kiong yang terletak di Jl
Poncowinatan 16, kota Jogja didirikan pada tanggal 1 Desember 1906.
Pendiri dari Klenteng ini ialah : NV. Kian Gwan Tjan, NV. Kiem Bo Tjan,
Hiap Soen Tjan dan Kong Seng Tjan. Kini pengurus Klentheng dilakukan
oleh yayasan “Bhakti Loka.” Klenteng ini memiliki luas bangunan 3500m2, dengan ruang utama 1000m2, ruang halaman depan 1000m2, ruang samping 1000m2, ruang belakang 500m2.
Kedudukan altar meja sembahyang dengan masing-masing patung pujaan
adalah: ruang tengah - Kwan Tee Kong (tengah), Tay Pek Kong (kanan),
Thian Siang Sing Bo (kiri). Di ruang lain: Kwan Ing Tay Soe (tengah),
Giok Hong Tay Tie (ruang atas), dan Kong Hu Tju (kanan). Diberanda
paling depan seperti lazimnya adalah tempat untuk sembahyang kepada
Thian. Klenteng Kwan Tee Kiong ini pujaan utamanya (tuan rumah) adalah
Guan Yu (tanggal 24 bulan 6 Imlek).[32]
III. Purna-penelitian Agama Tri-Dharma
Berdasarkan hasil wawancara, agama Tridharma konteks klenteng “Kwan Tee
Kiong” dan tempat ibadahnya bukanlah merupakan bentuk sinkritisme.
Tetapi lebih kepada penyatuan kultur hanya orang-orang Tionghoa. Supaya
mengingat tradisi dan leluhur. Di tempat ibadah agama Tridharma, mereka
tetap memelihara tiga altar yang berbeda. Hal ini tidak sama dengan
menyatukan ajaran, namun hanya menyatukan tempat peribadatan. Penekanan
tempat ibadat bersama menjadi ciri agama Tri-Dharma merupakan salah satu
unsur yang tetap berusaha dipertahankan di tengah-tengah jaman. Hal
tersebut memberikan pemahaman bahwa orang-orang Tionghoa mengusahakan
toleransi umat beragama dengan cara mereka yang khusus.
[1] Ibid. Morthiko. Riwayat Klentheng, Vihara, Lithang Tempat Ibadat Tridharma. (Surabaya : Percetakan Sidoyoso, 1980), 46.
[2] Ibid.
[3] Buddha bermakna : Yang Dicerahkan.
[4] Morthiko. Riwayat Klentheng, Vihara, Lithang Tempat Ibadat Tridharma. (Surabaya : Percetakan Sidoyoso, 1980), 48-49.
[5] Ibid., 51.
[6] Ibid.
[7] Ibid.
[8] Ibid., 52.
[9] Ibid.
[10]
Menurut tradisi kerajaan Tjou berdiri pada abad ke-12 atau e-11 sebelum
Masehi, dan berlangsung hingga 256 sebelum Masehi. Morthiko. Riwayat Klentheng, Vihara, Lithang Tempat Ibadat Tridharma. (Surabaya : Percetakan Sidoyoso, 1980), 58.
[11] H.G. Creel. Alam Pikiran Cina: Sejak Konfusius sampai Mao Ze Dong, (Yogyakarta:Tiara Wacana Jogja, 1990), 107. Diterjemahkan oleh Drs. Soejono Soemargono. Chinesse thought from Confusius to Mao Tse Tung (USA: The University of Chicago Press, 1953).
[12] Ibid.
[13] Ibid., 108.
[14] Ibid., 109.
[15] Ibid.
[16] Ibid.
[17] Ibid.
[18] Ibid., 104.
[19] Ibid., 111-112. Dikutip dari Legge, The Writing of Kwang Tze, II. No 60-61.
[20] H.G. Creel. Alam Pikiran Cina: Sejak Konfusius sampai Mao Ze Dong, (Yogyakarta:Tiara Wacana Jogja, 1990), 112. Diterjemahkan oleh Drs. Soejono Soemargono. Chinesse thought from Confusius to Mao Tse Tung (USA: The University of Chicago Press, 1953).
[21] Ibid., 113.
[22] XS. Tjhie Tjay Ing. Panduan Pengajaran Dasar Agama KONGHUCU. (Solo; Matakin, 2006), 9.
[23] Ibid. Keterangan: Kongzi adalah nama panggilan Konfusius oleh penganut agama KongHuCu.
[24] Ibid.
[25] Ibid. Dikutip dari sabda suci VII: 1.2.
[26] Ibid., 10.
[27] H.G. Creel. Alam Pikiran Cina: Sejak Konfusius sampai Mao Ze Dong, (Yogyakarta:Tiara Wacana Jogja, 1990), 41. Diterjemahkan oleh Drs. Soejono Soemargono. Chinesse thought from Confusius to Mao Tse Tung (USA: The University of Chicago Press, 1953). Dikutip dari Mencius 2(1)6.
[28] Istilah Chun Tsu
pada masa lalu untuk menunjukkan garis keturunan dimana klas bangsawan,
raja, pejabat, memperoleh status ‘orang baik-baik’ oleh karena darah
mereka.Lihat Alam Pikiran Cina: Sejak Konfusius sampai Mao Ze Dong, 29.
[29] Ibid., 29.
[30] Hasil Wawancara kelompok di klenteng “Kwan Tee Kiong.” Tanggal 15/10/2010.
[31] Hasil Wawancara dan studi pustaka dari buku: Morthiko. Riwayat Klentheng, Vihara, Lithang Tempat Ibadat Tridharma. (Surabaya : Percetakan Sidoyoso, 1980),234- 236.
[32]
Guan Yu adalah salah satu tokoh yang hidup pada jaman kerajaan Shu.
Pengabdian, Kesetian, Keberanian dan Persaudaraannya menjadi panutan
bagi para pemujanya.
Langganan:
Postingan (Atom)
