Label

Tampilkan postingan dengan label Buddha Gotama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buddha Gotama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Februari 2012

PENERAPAN DHAMMA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI :

PENERAPAN DHAMMA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI :

Banyak hal yang patut kita terapkan dari ajaran Buddha di dalam kehidupan kita sehari-hari, antara lain: kesabaran, cinta kasih, belas kasihan, ketekunan, kesederhanaan, mudah puas, rendah hati, murah hati, berperilaku baik, dst. Buddha mengatakan, “Kesabaran adalah berkah tertinggi” [SN 2.4]. Dan cinta kasih dan belas kasihan merupakan fondasi ajaran Buddha (Baca Bab 1A tentang sifat belas kasihan Buddha yang patut dijadikan teladan). Kita juga patut menjadikan usaha dan tekad petapa Gotama sebagai teladan. Dan juga patut meneladani dirinya yang hidup sederhana dan mudah puas. Jalanilah hidup kita dengan rendah hati karena kelak, segalanya akan terpisah dari kita. Sifat murah hati dan berperilaku baik akan dibahas secara lebih mendetail di bawah. Selanjutnya ajaran “tanpa diri/roh/aku”yang sulit dipahami tersebut akan dibahas secara bertahap dengan tujuan agar para umat Buddha dapat memahami hidup ini selayaknya seorang pengikut Buddha.

A. Dâna


Dikatakan bila seseorang membilas sisa makanannya di kolam air (danau) dan berpikir, "biarlah ikan-ikan ini memakan sisa makanan ini," maka ia telah termasuk berdana [AN 3.57].


Ajaran Buddha mengajarkan kita berdana. Buddha tidak pernah menyuruh kita untuk berdana hanya untuk kepentingan Buddha, Dhamma, dan Saõgha saja. Yang dikatakan Buddha adalah dana yang diberikan kepada orang yang berbudi luhur akan memberikan hasil yang lebih bagus [AN 3.57, MN 142]. Dan dana yang diberikan untuk kalangan banyak akan lebih bagus kualitasnya [MN 142]. Untuk itu, pemberian dana kepada Saõgha seharusnya tidak ditujukan hanya kepada bhikkhu-bhikkhu tertentu atau vihâra-vihâra tertentu, akan tetapi seharusnya ditujukan kepada seluruh anggota Saõgha yang mencakup seluruh bhikkhu dan bhikkhuóî di seluruh penjuru dunia. Dana yang diberikan kepada Saõgha sedemikian rupa malahan melampaui dana yang diberikan kepada Buddha sekalipun [MN 142].


Tetapi faktor pikiran dalam berdana itu merupakan faktor terpenting (Baca Bab 1B). Mereka yang berdana kemudian menyesal berat atas dana yang diberikan kelak akan memudarkan hasil yang akan diperolehnya. Selalu ingatlah bahwa dana itu adalah pendukung pikiran [AN 7.49]. Ia bersifat membagi apa yang kita miliki. Ia menjadikan pikiran ini berbahagia atas dana yang diberikan, dan kebahagiaan tersebut akan membawa kepada ketenangan batin yang lebih tinggi [AN 11.1]. Maka dari itu, dikatakanlah "dana adalah pendukung pikiran." Inilah motivasi berdana yang termulia yang dinyatakan oleh Buddha [AN 7.49].




B. Sîla


Buddha mengajari kita untuk melaksanakan sîla (berperilaku baik) disertai pengertian yang sesuai dengan Dhamma. Dalam hal ini Buddha membedakan sîla menjadi dua jenis, yakni sîla yang berhubungan dengan ajaran Dhamma yang lebih tinggi & sîla yang tidak berhubungan dengan ajaran Dhamma yang lebih tinggi [MN 117]. Ketika seseorang melaksanakan sîla sesuai dengan ajaran Dhamma yang lebih tinggi, maka ia akan meraih manfaat yang jauh lebih tinggi pula. Dan bila ia melaksanakannya tanpa seiring dengan ajaran Dhamma yang lebih tinggi tersebut, maka hasil yang ia peroleh tidak akan sebagus itu. Kemudian Buddha menyebutkan bahwa hal yang membedakan sîla ini menjadi dua jenis tersebut adalah pemahaman seseorang terhadap Dhamma. Dengan kata lain, kita akan meraih manfaat yang lebih besar apabila pelaksanaan sîla kita diiringi dengan pemahaman yang baik terhadap Dhamma. Malahan Buddha dengan jelas mengatakan bahwa pengertian/pemahaman Dhamma seharusnya mendahului sîla [MN 117].


Salah satu kisah yang paling bagus untuk kita pelajari yang berhubungan dengan sîla dan kebijaksanaan adalah kisah Isidatta dan Purana [AN 6.44]. Isidatta dan Purana adalah dua bersaudara yang hidup di masa Buddha. Mereka masing-masing berkeluarga (memiliki isteri). Akan tetapi, di akhir kehidupannya, Purana tidak berhubungan intim lagi dengan isterinya. Sedangkan saudaranya, Isidatta, hidup selayaknya seorang suami dengan isterinya. Suatu saat isteri Purana, Migasala, bertanya kepada Bhikkhu Ânanda mengapa suaminya yang memiliki sîla yang lebih bagus itu (dibanding Isidatta) dinyatakan sama tingkat batinnya (dengan Isidatta) oleh Buddha. Bhikkhu Ânanda tidak dapat menjawab pertanyaan Migasala. Kemudian ia mencari tahu dari Buddha alasan mengapa Buddha menyatakan bahwa mereka adalah sama dalam hal tingkat batin (keduanya dinyatakan sebagai Sakadâgâmi). Buddha mengingatkan Bhikkhu Ânanda (Sotâpanna) agar ia tidak semberono dalam menilai orang lain. Buddha mengatakan, “Siapakah Migasala, yang tidak mengerti Dhamma dan sembarang menilai/membandingkan orang lain ? Hanya Aku, atau murid-murid yang sebanding diri-Ku lah yang dapat menilai orang lain.” Kemudian Buddha menjelaskan kepada Bhikkhu Ânanda bahwa Isidatta adalah seorang yang bijaksana akan tetapi dalam hal sîla, ia tidak sehebat Purana. Sedangkan Purana adalah seorang yang beretika tinggi, namum dalam hal kebijaksanaan ia tidak sebanding Isidatta. Oleh karena alasan inilah, maka mereka adalah sebanding dalam hal tingkatan batin. Akan tetapi, kita harus menyadari bahwa walaupun Purana kurang hebat dibanding dengan Isidatta dalam hal kebijaksanaan, akan tetapi tentunya kebijaksanaan Purana bukanlah lemah karena ia telah memiliki pemahaman Dhamma yang tinggi (selayaknya seorang Sakadâgâmi).


Dua kisah yang menarik ini menunjukan kepada kita bahwa:


1) Kita seharusnya memiliki pengertian Dhamma yang baik.


2) Sîla yang baik disertai pengertian Dhamma yang lebih mendalam akan memberikan manfaat yang lebih besar.


Mari kita meneliti lima latihan kemoralan yang dianjurkan Buddha [AN 8.26]:


1) Berusaha untuk menghindari pembunuhan ataupun penganiyaan


Seperti yang dikatakan dalam melaksanakan sîla kita seharusnya juga memiliki pengertian yang baik. Dalam hal ini kita seharusnya mengerti bahwa makhluk-makhluk kecil sekalipun, seperti serangga, takut mati. Mereka juga tidak ingin disakiti. Mengerti secara sungguh-sungguh tentang kenyataan ini, maka kita seharusnya tidak melukai mereka ataupun membunuh mereka. Bukankah diri kita sendiri tidak ingin disakiti dan dibunuh? Untuk itulah, kita seharusnya mengembangkan rasa cinta kasih dan belas kasihan kepada semua makhluk. Pikiran untuk membunuh atau menyakiti makhluk lain tidak mungkin dapat muncul lagi di diri seseorang yang telah memiliki cukup pengembangan cinta kasih dan belas kasihan. Buddha mengatakan bahwa sîla seharusnya diiringi dengan pemahaman, daya upaya, dan perenungan yang sesuai dengan Dhamma [MN 117]. Dalam hal ini, upaya untuk tidak melukai dan upaya untuk melenyapkan kebencian dan mengembangkan cinta kasih seharusnya dikembangkan.


2) Berusaha untuk menghindari pencurian atau mengambil barang yang tidak diberikan


Mengambil barang milik orang lain yang tidak diberikan kepada kita itulah yang disebut mencuri. Tetapi tidak semua pencurian itu sama kadarnya. Ada jenis pencurian yang lebih parah dibanding yang lain. Misalnya ketika seseorang merampas milik orang lain selayaknya seorang perampok, maka ia melakukan tindakan yang parah, yang akan menghancurkan nama baiknya, yang juga akan membawa hukuman penjara kepadanya. Kita seharusnya mengerti bahwa semua orang tidak ingin kehilangan harta benda mereka. Kemudian kita seharusnya mengerti bahwa keserakahan adalah sumber penderitaan. Puas dengan apa yang telah kita miliki dan tidak tergila-gila dengan milik orang lain adalah sifat yang seharusnya kita kembangkan. Jadi bila kedua pengertian ini telah banyak dikembangkan di diri ini dengan upaya yang sungguh-sungguh, maka kita akan dengan mudah menghindari pencurian. Dengan demikian, kapan saja kalau kita mau, kita dapat merenungi kembali sîla kita yang tidak ternoda, dan selalu berbahagia oleh karenanya. Inilah manfaat sîla yang setingkat lebih tinggi dari sekedar melaksanakannya begitu saja [AN 11.1].


3) Berusaha untuk menghindari hubungan seks yang melanggar norma


Berhubungan seks dengan mereka yang telah menikah, bertunangan, yang masih diasuh oleh sanak keluarga, yang dilindungi oleh peraturan setempat, yang dilindungi oleh adat setempat, yang tidak diinginkan orang tersebut (pemaksaan) adalah semuanya termasuk tindakan yang tercela [MN 41]. Pengertian yang seharusnya dikembangkan di sini adalah kesadaran yang tinggi tentang bahayanya nafsu yang tidak terkendalikan. Banyak orang-orang sukses yang hancur kariernya dikarenakan mereka tidak mampu mengendalikan nafsu mereka. Hanya satu kesalahan kecil mampu menghancurkan hidup yang bahagia. Ini adalah pengertian yang seharusnya direnungkan dari saat ke saat. Usaha untuk menghindari hubungan seks yang melanggar norma juga seharusnya dikembangkan dengan menghindari kontak/hubungan yang tidak senonoh. Bila kita merasa suatu kebiasaan kita memberikan banyak kesempatan bagi kita untuk berhubungan seks yang melanggar norma, maka hindarilah kebiasaan tersebut.


4) Berusaha untuk menghindari perkataan yang tercela


Menyampaikan sesuatu yang tidak benar adalah termasuk berbohong. Pengecualiannya adalah bila kita sendiri tidak tahu bahwa hal tersebut adalah tidak benar. Misalnya kalau orang-orang mengatakan obat ini ampuh untuk penyakit tertentu dan kita menyampaikan informasi tersebut juga kepada orang lain. Akan tetapi, suatu saat penelitian menunjukan bahwa obat tersebut sebenarnya tidak ampuh sama sekali untuk penyakit tersebut, maka kita tidak termasuk berbohong. Dan berbohong, juga tidak semuanya memiliki kadar yang sama. Misalnya, memfitnah adalah jenis yang lebih jahat. Pengertian yang seharusnya dikembangkan adalah menyadari bahwa diri kita sendiri tidak ingin ditipu, dibohongi. Hal-hal lain yang juga patut dikembangkan adalah rasa kasih sayang dan belas kasihan kepada sesama manusia. Sifat takut dan malu untuk berbohong juga adalah sifat yang patut dikembangkan [SN 1.18]. Sifat malu dan takut adalah dua sifat yang dipuji oleh Buddha karena kedua sifat ini menghindari diri kita dari perbuatan-perbuatan yang merugikan. Perkataan kotor dan kasar yang melukai hati orang lain juga seharusnya dihindari. Adu domba dan gosip-gosip juga seharusnya dihindari.


5) Berusaha untuk menghindari penggunakan minuman dan obat-obatan yang dapat melemahkan kesadaran diri


Minuman dan obat-obatan yang termasuk dalam katagori ini adalah minuman yang mengandung alkohol dan obat-obat terlarang yang mempengaruhi kesadaran diri. Penggunaan obat-obat terlarang tidak diperbolehkan hampir di semua negara. Malahan bila seseorang menggunakannya, maka ia akan berhubungan dengan pihak yang berwenang. Minuman beralkohol juga seharusnya dihindari [SN 2.14]. Pengecualiannya adalah ketika kita sakit dan obat yang diberikan tersebut mengandung kadar alkohol atau unsur kimia yang mempengaruhi kesadaran diri.


Jadi kita telah menjelaskan secara cukup rinci bagaimana sîla seharusnya dilaksanakan, yakni pertama-tama seharusnya didasari dengan pengertian, kemudian pelaksanaan sîla tersebut juga seharusnya diiringi dengan daya upaya dan perenungan yang sesuai dengan Dhamma. Pelaksanaan sîla adalah latihan utama/dasar dalam ajaran Buddha. Kita seharusnya menghindari perbuatan yang dapat mendatangkan keresahan dan penyesalan yang panjang di hidup kita.


C. Pengertian mulia


Pengertian mulia tentang keyakinan


Umat Buddha adalah mereka yang menganggap Buddha sebagai guru pembimbing mereka. Dan ajaran Buddha lah yang menghubungkan Buddha dengan umat-Nya terutama untuk masa sekarang. Dengan kata lain, umat Buddha melihat Buddha melalui ajaran-Nya, bukan dengan bertemu muka dengan-Nya. Setelah mengerti ajaran tersebut, barulah umat Buddha mengatakan, “Wah, siapapun yang mengajarkan ajaran ini, tentulah ia memiliki kebijaksanaan yang luar biasa.” Ini adalah bagaikan seseorang yang telah melihat sinar cahaya dan dengan sendirinya mengetahui secara pasti adanya sumber cahaya (walau ia belum melihat langsung sumber cahaya tersebut). Kepercayaan terhadap Buddha ini bukanlah kepercayaan akan sosok fisik-Nya (apakah ia pangeran, lahir di Nepal, lahir 2500 tahun yang lalu, ras India, dst), akan tetapi mempercayai pencerahan yang diraih-Nya. Ingat, ‘Buddha’ berarti ‘Ia yang tercerahkan (dengan upaya sendiri).’ Dan Buddha pernah mengatakan kepada seorang bhikkhu yang telah lama ingin melihat diri-Nya dan yang sedang menghadapi ajalnya (keinginan terakhir hidupnya adalah melihat Buddha), “Cukuplah, apa yang perlu dilihat dari sosok tubuh yang kotor ini ? Sesungguhnya ia yang melihat Dhamma melihat diri-Ku, dan ia yang melihat diri-Ku melihat Dhamma” [SN 22.87]. Jelaslah melihat Buddha di sini tidak berarti melihat sosok tubuh-Nya, akan tetapi mengerti jelas pencerahan yang dicapai-Nya.


Oleh karena itu, maka pengertian terhadap ajaran Buddha itu adalah yang pokok, yang utama, dan yang terpenting. Dengan mengerti ajaran Buddha melalui pandangan terang, maka keyakinan yang disebutkan di atas akan muncul dengan sendirinya, bagaikan seseorang yang mengetahui secara pasti adanya sumber cahaya setelah terlebih dahulu melihat sinar cahaya tersebut secara langsung. Dalam hal ini, pengertian dan keyakinan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Seseorang tidak dapat mengatakan bahwa ia mengerti tapi tidak yakin. Demikian pula ia tidak dapat mengatakan bahwa ia yakin tapi tidak mengerti.


Pengertian mulia tentang ketidak-puasan yang selalu menyertai segala yang terkondisi


Secara singkat, apapun yang terkondisi akan berubah, hancur, dan lenyap. Maksud dari “terkondisi” di sini adalah keberadaannya tergantung pada keberadaan hal lainnya (tidak tetap). Dengan kata lain, sifatnya dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Misalnya, baju yang indah terkondisi oleh bahan/benangnya. Benang terkondisi oleh kelembaban dan temperatur. Kelembaban dan temperatur juga terkondisi oleh hal-hal lainnya, dan seterusnya.


Dan secara singkat pula, apapun yang terkondisi (tidak tetap) adalah tidak memuaskan. Diri ini yang dikenal sebagai “aku”, “saya”, “milikku”, atau “punyaku” adalah terkondisi [SN 22.59]. Dan bagaimanakah sesungguhnya diri ini terkondisi ?


Pengertian mulia tentang diri ini


Badan ini terkondisi oleh makanan, perawatan, dan usia. Walau dirawat dengan sebaik-baiknya dan diberi makanan yang paling bergizi, badan ini suatu hari tetap akan menjadi mayat via aging. Kalau tidak diberi makanan dan perawatan, badan ini akan menjadi mayat via expressway! Inilah kenyataan tentang badan ini yang selalu terkondisi oleh makanan, perawatan, dan usia.


Kesadaran ini juga terkondisi [MN 38]. Kesadaran yang terbentuk dengan mata dan objek visual dikenal sebagai kesadaran penglihatan. Kesadaran yang terbentuk dengan telinga dan suara dikenal sebagai kesadaran pendengaran. Kesadaran yang terbentuk dengan hidung dan aroma dikenal sebagai kesadaran penciuman. Kesadaran yang terbentuk dengan sistem saraf peraba dan objek yang menyentuh dikenal sebagai kesadaran peraba. Kesadaran yang terbentuk dengan pikiran dan objek mental dikenal sebagai kesadaran mental. Bagaikan api yang membakar lilin dikenal sebagai api lilin, api yang membakar kayu dikenal sebagai api kayu, api yang membakar arang dikenal sebagai api arang, dan seterusnya. Dan keberadaan api tersebut tergantung pada sumber pendukungnya, yakni api lilin tergantung pada lilin (bila lilin habis, api juga ikut habis), api kayu tergantung pada kayu, dan seterusnya. Begitu pula kesadaran tergantung pada sumber pendukungnya. Kesadaran penglihatan tergantung pada mata dan objek visual, kesadaran pendengaran tergantung pada telinga dan suara, dst. Terdapat juga kesadaran penghubung antar satu kehidupan dengan kehidupan lain. Kesadaran ini—seperti layaknya kesadaran di atas—juga tergantung pada sumber pendukungnya. Kesadaran penghubung kehidupan ini akan dijelaskan di bawah.


Pencerapan ini (contact) terkondisi oleh indera, objek indera, dan kesadaran: dengan adanya mata, objek visual, dan kesadaran visual barulah ada proses penglihatan; dengan adanya telinga, suara, dan kesadaran pendengaran barulah ada proses pendengaran; dengan adanya hidung, aroma, dan kesadaran penciuman, barulah ada proses penciuman; dengan adanya organ pengecap, rasa, dan kesadaran pengecap barulah ada proses pengecap; dengan adanya sistem saraf peraba, objek yang menyentuh, dan kesadaran peraba barulah ada proses sentuhan; dengan adanya pikiran, objek mental, dan kesadaran mental barulah ada proses pemikiran. [Kesadaran diperlukan dalam proses pencerapan. Misalnya, kentut yang keras dan bau mungkin tidak dapat didengar ataupun dicium oleh orang yang sedang tidur nyenyak walau telinga dan hidungnya masih dalam kondisi yang sehat. Tetapi karena kesadaran pendengaran dan penciumannya sedang lemah sewaktu tidur, maka ia tidak dapat mendengar maupun menciumnya, kecuali bila memang kentut tersebut super nyaring bunyinya dan super pedas baunya.]


Perasaan ini terkondisi oleh pencerapan (contact): dengan adanya pencerapan barulah ada perasaan yang menyenangkan, perasaan yang tidak menyenangkan, dan perasaan yang netral. Misalnya, setelah mendengar lelucon yang lucu, timbul rasa senang. Rasa senang ini tergantung pada (muncul setelah) adanya contact (mendengar humor tersebut).


Pikiran ini terkondisi oleh objek mental: dengan adanya objek mental yang rumit maka pikiran menjadi rumit; dengan adanya objek mental yang menenangkan maka pikiran menjadi tenang, dst. Inilah alasannya mengapa Buddha menganjurkan para bhikkhu untuk hidup menyendiri jauh dari keramaian dan keributan, jauh dari permasalahan duniawi [MN 03, AN 8.30]. Karena di tempat yang sepi dan sunyi lah pikiran akan cenderung menjadi tenang.


Ringkasnya, segala sesuatu yang terkondisi adalah tidak memuaskan. Dan segala yang tidak memuaskan tidak pantas dianggap sebagai “aku”, “saya”, “milikku” atau “punyaku.”


Pengertian mulia menghentikan segala ketidakpuasan


Apabila seseorang menganggap ini adalah “aku”, “saya”, “milikku” atau “punyaku,” maka ia akan terobsesi olehnya. Dengan obsesi ini, maka munculah keinginan untuk ini dan itu (pokoknya banyak deh keinginannya!). Keinginan “ini dan itu” lah yang akan terus mendorongnya untuk tetap dilahirkan kembali ke alam kehidupan. Setelah dilahirkan, maka suatu hari ia pasti akan sakit, tua, dan mati. Bila dilahirkan di alam yang tinggi (dewa atau brahma), suatu saat ia juga akan jatuh kembali ke alam yang lebih rendah, dan seterusnya. Kesadaran yang menghubungkan kehidupan lampau dengan kehidupan ini dikenal sebagai kesadaran penghubung. Dan sumber penyokong dari kesadaran penghubung ini adalah ketidakpahaman terhadap segala hal yang terkondisi. Tetapi dengan munculnya pengertian mulia tentang ketidakpuasan dari segala hal yang terkondisi ini, maka kegiuran lenyap. Dengan lenyapnya kegiuran, keterikatan lenyap. Dengan lenyapnya keterikatan, keinginan untuk “ini itu” lenyap. Dengan lenyapnya keinginan “ini itu” maka kesadaran penghubung tersebut sudah tidak disokong lagi—padam bagaikan api lilin yang padam setelah habisnya lilin yang dahulu menyokongnya [MN 38].

Kamis, 16 Februari 2012

Sakkaya Ditthi

Sakkaya Ditthi

Wasapadalah wahai saudara

Janganlah sampai diperdaya
Khayalannya pikiran anda
Nan slalu menggoda

Bak sejuta bintang di langit

Bertaburanlah cita-cita
Khayalkan bahagia abadi
Nan indah selalu

Karna adanya pandangan kliru
Terhadap pikiran itu
Cinta benci sedih girang rindu
Dikau percaya selalu

Semua gerak gerik citta
Hanyalah khayal bohong hampa
Kebodohan mula sebabnya
Timbulkan derita

TIGA CORAK KEHIDUPAN (Tilakkhana)

TIGA CORAK KEHIDUPAN
(Tilakkhana)



"Sabbe sankhara anicca`ti. Yada pannaya passati; atha nibbindati dukkhe. Esa maggo visuddhiya."

Segala sesuatu yang berkondisi adalah anicca. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini; maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.
(Dhammapada 277)

"Sabbe sankhara dukkha`ti. Yada pannaya passati; atha nibb
indati dukkhe. Esa maggo visuddhiya."
Segala sesuatu yang berkondisi adalah dukkha. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini, maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.
(Dhammapada 278)

"Sabbe dhamma anatta`ti. Yada pannaya passati; atha nibbindati dukkhe. Esa maggo visuddhiya."
Segala dhamma (kebenaran) adalah anatta. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat ini, maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.
(Dhammapada 279)

Tilakkhana atau tiga corak, ciri, karakteristik yaitu anicca, dukkha dan anatta, merupakan tiga corak, ciri, karakteristik yang ada di setiap segala sesuatu atau fenomena yang terbentuk dari perpaduan unsur (berkondisi) yang ada di alam semesta ini, termasuk makhluk hidup. Ciri ini merupakan salah satu bentuk dari Hukum Kebenaran Mutlak (Paramatha-sacca) karena berlaku dimana saja dan kapan saja.

Anicca

Anicca berasal dari kata ”an” yang merupakan bentuk negatif atau sering diterjemahkan sebagai tidak atau bukan. Dan ”nicca” yang berarti tetap, selalu ada, kekal, abadi. Jadi kata ”an-nicca” berarti tidak tetap, tidak selalu ada, tidak kekal, tidak abadi, berubah. Dalam bahasa Sanskerta disebut juga sebagai anitya.

Sabbe sankhara anicca berarti segala sesuatu yang berkondisi, terbentuk dari perpaduan unsur, merupakan sesuatu yang mengalami perubahan, tidak kekal.

Semua fenomena yang ada di dalam alam semesta ini selalu dalam keadaan bergerak dan mengalami proses, yaitu:
Upadana (timbul), kemudian Thiti (berlangsung), dan kemudian Bhanga (berakhir/lenyap).

Mengapa segala fenomena mengalami perubahan atau tidak kekal? Hal ini karena sudah menjadi sifat alami dari segala sesuatu yang terbentuk dari perpaduan unsur akan mengalami perubahan, ketidakkekalan.

Dukkha

Dukkha berasal dari kata ”du” yang berarti sukar dan kata ”kha” yang berarti dipikul, ditahan. Jadi kata ”du-kha” berarti sesuatu atau beban yang sukar untuk dipikul. Jadi kata ”duh-kha” berarti sesuatu atau beban yang sukar untuk dipikul. Pada umumnya dukkha dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai penderitaan, ketidakpuasan, beban.

Sabbe sankhara dukkha berarti segala sesuatu yang berkondisi, terbentuk dari perpaduan unsur, merupakan sesuatu yang tidak memuaskan yang akan menimbulkan beban berat atau penderitaan.

Mengapa segala fenomena tidak memuaskan dan menimbulkan beban berat atau penderitaan? Hal ini dikarenakan segala fenomena tersebut mengalami perubahan, tidak kekal. Dan ketika kita tidak bisa memahami dan menerima bahwa segala fenomena selalu mengalami perubahan, tidak kekal, maka timbul perasaan ketidaksukaan, ketidakpuasan pada diri kita dan akhirnya menimbulkan beban berat atau penderitaan.

Anatta

Anatta berasal dari kata ”an” yang merupakan bentuk negatif atau sering diterjemahkan sebagai tidak atau bukan. Dan ”atta” berarti berarti diri sejati atau inti/`roh`. Dalam bahasa Sanskerta disebut juga sebagai anatman. Jadi kata ”an-atta” berarti bukan diri sejati atau tanpa inti/`roh`.

Sabbe dhamma anatta berarti segala dhamma (kebenaran) yang berkondisi, terbentuk dari perpaduan unsur, dan juga yang tidak berkondisi, tidak terbentuk dari perpaduan unsur merupakan sesuatu yang tidak memiliki inti/`roh` dan bukan diri yang sejati.

Beberapa orang telah salah memahami mengenai ajaran anatta dengan beranggapan bahwa tidak ada diri, tidak ada yang namanya orang/person (puggala). Anggapan ini keliru. Guru Buddha tidak mengajarkan hal ini. Beliau mengajarkan bahwa ada yang disebut dengan diri atau orang/person (puggala), tetapi diri atau orang/person (puggala) tersebut bukanlah benar-benar inti atau jati diri dari diri atau orang (person) tersebut, melainkan hanyalah merupakan perpaduan unsur-unsur yang membentuk, yang membuatnya ada atau eksis yang suatu saat akan mengalami perubahan. Karena perpaduan unsur-unsur inilah diri seseorang terbentuk. Dan karena segala sesuatu yang terbentuk dari perpaduan dari unsur-unsur pasti mengalami perubahan, maka diri seseorang pun mengalami perubahan, penguraian, yang akhirnya eksistensi dari diri seseorang tidak lagi ada atau eksis. Inilah mengapa dikatakan tidak memiliki inti atau bukan diri sejati.

Mengapa segala fenomena tidak ada inti atau bukan diri sejati?

Di dalam Anattalakkhana Sutta; Samyutta Nikaya 22.59 {S 3.66}, Guru Buddha menjelaskan bahwa Rupa (jasmani), Vendana (perasaan), Sanna (pencerapan), Sankhara (pikiran) dan Vinnana (kesadaran) disebut sebagai Panca Khanda (lima kelompok kehidupan/kegemaran) yang semuanya bukanlah diri sejati. Jika Khanda itu merupakan diri sejati, maka tidak akan mengalami penderitaan, dan semua keinginan seseorang akan kandha-nya akan terpenuhi, ”Biarkan Kandha-ku seperti ini dan bukan seperti itu.”

Tetapi karena khanda tidak dapat dikendalikan sesuai dengan keinginan atau harapan seseorang, ” Biarkan Kandha-ku seperti ini dan bukan seperti itu”, dan juga mengalami penderitaan, maka dikatakan bahwa kandha bukanlah diri sejati.

Selain ajaran Anatta yang diajarkan oleh Guru Buddha, di dunia ini terdapat 2 ajaran atau paham lain yang terdapat dalam kepercayaan lain, yaitu:

1. Attavada, yaitu paham atau ajaran yang menyatakan bahwa terdapat atta atau inti atau diri sejati yang tidak mengalami perubahan, yang ada sepanjang masa atau abadi meskipun melalui tahap kelahiran kembali. Paham ini juga disebut sebagai paham Eternalisme (paham ini tidak dibenarkan oleh Sang Buddha).
2. Ucchedavada, yaitu paham atau ajaran yang menyatakan bahwa sama sekali tidak terdapat atta atau diri, dimana ketika mati maka semuanya akan turut lenyap, tidak membentuk apapun lagi, tidak meengalami kelahiran kembali. Paham ini juga disebut sebagai paham Nihilisme (paham ini tidak dibenarkan oleh Sang Buddha).

Beberapa contoh nyata mengenai ajaran Anatta. Ketika kita melihat sebuah sofa maka kita akan melihatnya sebagai hal yang biasa dan menyebutnya sebagai sofa. Tetapi ketika sofa yang terbuat dari kayu, busa, kain, lem, tenaga manusia, dan sebagainya itu kita uraikan, kita pisah-pisahkan, kita bongkar, maka yang kita lihat sekarang hanyalah beberapa potong kayu bekas, kain, busa dan sebagainya yang tidak mungkin sama dengan bahan awal pembuat sofa. Kita hanya menyebutnya sebagai sisa sofa, kain bekas sofa, kayu bekas sofa, dan sebagainya. Kita tidak akan melihat lagi sofa tadi.

Contoh lain tentang ajaran Anatta, ketika kita membuat roti. Roti dibuat dengan memakai tepung, ragi, gula, garam, mentega, susu, air, api, tenaga kerja dan lain-lain Tetapi setelah menjadi roti tidak mungkin kita akan menunjuk satu bagian tertentu dan mengatakan: ini adalah tepungnya, ini garamnya, ini menteganya, ini airnya, ini apinya, ini tenaga kerjanya dst. Karena setelah bahan-bahan itu diaduk menjadi satu dan dibakar di oven, maka bahan-bahan itu telah berubah sama sekali. Meskipun roti itu terdiri dari bahan-bahan yang tersebut di atas, namun setelah melalui proses pembuatan dan pembakaran di oven telah menjadi sesuatu yang baru sama sekali dan tidak mungkin lagi untuk mengembalikannya dalam bentuknya yang semula.

Pemahaman akan ajaran anatta dapat juga dianalisa dan direnungkan dalam ajaran mengenai Sebab-Musabab yang Saling Bergantungan (Paticcasamuppada).

Yang Merupakan Ajaran Sang Buddha

Yang Merupakan Ajaran Sang Buddha
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhasa

”Ada kemungkinan, bahwa di antara kalian ada yang berpikir: ‘Berakhirlah kata-kata Sang Guru;

kita tidak mempunyai seorang Guru lagi.’ Tetapi, Ananda, hendaknya
tidak berpikir demikian. Sebab apa yang telah Aku ajarkan sebagai Dhamma
... dan Vinaya, Ananda, itulah kelak yang menjadi Guru-mu, ketika Aku
pergi.”

(Mah
aparinibbana Sutta, Digha Nikaya 16)


Dewasa ini banyak di antara kita
yang dibingungkan oleh kehadiran kelompok-kelompok yang mengajarkan
suatu ajaran dengan mengatasnamakan Buddhisme. Banyak pertanyaan yang
dilontarkan seperti : Apakah kelompok ini adalah salah satu aliran
Buddhisme ? Apakah aliran ini merupakan aliran sesat ? Apakah ajaran ini
merupakan ajaran yang diajarkan oleh Sang Buddha ? Dan sebagainya.

Dari kebingungan tersebut timbul sebuah pertanyaan : Bagaimana kita membedakan mana yang merupakan ajaran yang diajarkan oleh Sang Buddha dengan mana yang bukan ? Apakah Sang Buddha pernah memberikan petunjuk untuk menangani masalah ini ? Jawabannya ya, Sang Buddha telah memberikan petunjuk untuk menangani masalah ini.


Di bumi ini tidak ada Guru lain seperti Sang Buddha. Sang Buddha
adalah Guru yang penuh dengan ketelitian, memiliki kecermatan, dan
pandangan luas ke depan. Di saat-saat menjelang Parnibbana, sebelum Ia
Parinibbana, Ia sudah mempersiapkan, dan memastikan secara benar
kesiapan, keutuhan apa yang telah Beliau temukan dan Beliau rintis yaitu
keberadaan Dhamma, Vinaya, dan Sangha.
Beliau mengatakan bahwa yang menggantian Beliau setelah Ia tiada
bukanlah salah satu siswa UtamaNya, bukan Y.A. Maha Kasappa yang ahli
dalam latihan, bukan Y.A. Upali yang ahli dalam Vinaya, dan bukan juga
Ananda yang merupakan Bendahara Dhamma. Tetapi yang menggantikan Beliau
sebagai Guru bagi para siswaNya adalah Dhamma (ajaran) dan Vinaya (tata
tertib). Selain untuk menghindari perselisihan , hal ini ditetapkan juga
untuk menghindari pengkultusan individu di masa yang akan datang yang
akan menimbulkan kemelekatan pada diri seseorang, dan ini akan
mengganggu pencapaian seseorang.

Dengan demikian setelah Sang Buddha parinibbana sampai sekarang tidak ada pengganti diriNya selain Dhamma dan Vinaya.


Lebih jauh seseorang mungkin akan
bertanya, ”Bagaimana kita mengetahui dan memastikan bahwa Dhamma dan
Vinaya yang kita pelajari sekarang adalah Dhamma dan Vinaya yang di
ajarkan oleh Sang Buddha?” Pertanyaan kritis ini sangat penting karena akan menepis kepercayaan membuta terhadap suatu ajaran.


Jauh sebelum Sang Buddha
Parinibbana, Ia juga telah memberikan batasan mengenai apa-apa saja
yang termasuk dalam Dhamma dan Vinaya. Hal ini berguna untuk membedakan
mana yang merupakan ajaran Sang Buddha dan mana yang bukan, yang mana Dhamma dan yang mana Vinaya.


Dalam Paticchanna Sutta (Anguttara Nikaya III.129), Sang Buddha
menjelaskan kepada para bhikku mengenai ciri dari Dhamma dan Vinaya
yang dapat dilihat dari penampilan dan penyampaiannya.

“Tiga hal ini, para bhikkhu,
dilakukan secara tersembunyi, bukan secara terbuka. Apakah tiga hal itu?
Bercinta dengan wanita, para bhikku, dilakukan secara tersembunyi,
bukan secara terbuka; mantra para brahmana, para bhikkhu, dilakukan
secara tersembunyi, bukan secara terbuka; pandangan salah, para bhikkhu,
dilakukan secara tersembunyi, bukan secara terbuka. Itulah tiga hal,
para bhikkhu, yang dilakukan secara tersembunyi, bukan secara terbuka.”

“Tiga hal ini, para bhikkhu,
bersinar secara terbuka, bukan secara tersembunyi. Apakah tiga hal itu?
Lingkaran rembulan, para bhikku, bersinar secara terbuka, bukan secara
tersembunyi; lingkaran matahari, para bhikkhu, bersinar secara terbuka,
bukan secara tersembunyi; Dhamma dan Vinaya yang disampaikan oleh
Tathagata, para bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara
tersembunyi. Itulah tiga hal, para bhikkhu, yang bersinar secara
terbuka, bukan secara tersembunyi.”

Selanjutnya dalam Gotami Sutta (Anguttara Nikaya VIII. 53) , Sang Buddha menjelaskan kepada Y.A. Mahapajapati Gotami:

“Bila, Gotami, engkau
mengetahui hal-hal secara pasti: ‘Hal-hal ini menuju pada nafsu, bukan
pada tanpa-nafsu; pada kemelekatan, bukan pada tanpa-kemelekatan; pada
pengumpulan, bukan pada pelepasan; pada memiliki banyak keinginan, bukan
pada memiliki sedikit keinginan; pada ketidakpuasan, bukan pada
kepuasan; pada suka berkumpul, bukan pada kesendirian; pada kelambanan,
bukan pada kebangkitan semangat; pada kehidupan yang mewah, bukan pada
kesederhanaan’ – tentang hal-hal ini engkau bisa merasa pasti: ‘Ini
bukanlah Dhamma; ini bukanlah Vinaya; ini bukanlah Ajaran Sang Guru.’”

“Tetapi, Gotami, bila engkau
mengetahui hal-hal secara pasti: ‘Hal-hal ini menuju pada tanpa-nafsu,
bukan pada nafsu; pada tanpa-kemelekatan, bukan pada kemelekatan; pada
pelepasan, bukan pada pengumpulan; pada memiliki sedikit keinginan,
bukan pada memiliki banyak keinginan; pada kepuasan, bukan pada
ketidakpuasan; pada kesendirian, bukan pada berkumpul; pada kebangkitan
semangat, bukan pada kelambanan; pada kesederhanaan, bukan pada
kehidupan mewah’ – tentang hal-hal ini engkau bisa merasa pasti: ‘Ini
adalah Dhamma; ini adalah Vinaya; ini adalah Ajaran Sang Guru.’”

Begitu juga dalam SatthuSasana Sutta (Anguttara Nikaya VII. 80) , Sang Buddha menjelaskan kepada Y.A. Upali :

“Upali, jika engkau mengetahui
tentang hal-hal tertentu: ‘Hal-hal ini tidak membawa menuju perubahan
sepenuhnya, hilangnya nafsu, penghentian dan kedamaian, menuju
pengetahuan langsung, pencerahan spiritual dan Nibbana’ – dari
ajaran-ajaran seperti itu engkau bisa merasa yakin: ‘Ini bukan Dhamma;
ini bukan Vinaya; ini bukan Ajaran Sang Guru.’”

“Tetapi Upali, jika engkau
mengetahui tentang hal-hal tertentu: ‘Hal-hal ini membawa menuju
perubahan sepenuhnya, hilangnya nafsu, penghentian dan kedamaian, menuju
pengetahuan langsung, pencerahan spiritual dan Nibbana’ – dari hal-hal
semacam itu engkau bisa merasa yakin: ‘Inilah Dhamma; inilah Vinaya;
inilah Ajaran Sang Guru.’”


Dari petunjuk Sang Buddha
berupa kriteria Dhamma dan Vinaya dalam Paticchanna Sutta, Gotami Sutta
maupun SatthuSasana Sutta kita bisa melihat, menganalisa, meneliti
secara hati-hati terhadap berbagai macam ajaran yang kita temui dewasa
ini, sehingga kita bisa menemukan mana yang bukan ajaran Sang Buddha (yang menyimpang dari ajaran Sang Buddha), dan mana yang merupakan ajaran Sang Buddha.


Misalnya, ketika kita menemukan
sebuah ajaran yang diajarkan secara sembunyi-sembunyi, dirahasiakan dan
dengan syarat-syarat tertentu sehingga hanya beberapa orang saja yang
boleh mengetahuinya, maka mengacu pada Paticchanna Sutta, ajaran
tersebut bukanlah Dhamma dan Vinaya yang dibabarkan oleh Sang Buddha, dan kita bisa menghindari atau menolak ajaran seperti itu. Dhamma dan Vinaya yang dibabarkan oleh Sang Buddha
tidaklah diajarkan secara sembunyi-sembunyi, tidak di rahasiakan,
tetapi Dhamma dan Vinaya diajarkan secara terbuka, terang benderang
sehingga semua kalangan dapat mengetahuinya.


Atau suatu ketika kita menemukan
sebuah ajaran yang mengajarkan untuk membunuh dengan alasan tertentu,
kita bisa menjadikan penjelasan Sang Budda
dalam Gotami Sutta dan SatthuSasana Sutta mengenai apa itu Dhamma dan
Vinaya sebagai panduan. Setelah kita menganalisanya, dan kita mengetahui
bahwa membunuh itu menuju pada nafsu dan tidak menuju pada pelepasan,
maka ajaran yang mengajarkan untuk membunuh tersebut bukan merupakan
Dhamma dan Vinaya, bukan ajaran Sang Buddha. Dan kita perlu menghindarinya.


Dari apa yang disampaikan di atas,
semoga kebingungan kita untuk membedakan antara mana yang merupakan
ajaran Guru Buddha atau bukan, yang merupakan Dhamma dan Vinaya atau
bukan, serta yang merupakan aliran Buddhisme atau bukan, dapat kita
ketahui dan pahami secara jelas.

Semoga semua makhluk bebas dari penderitaan.

3 Kata yang Sebaiknya Tidak Sering Anda Ucapkan

3 Kata yang Sebaiknya Tidak Sering Anda Ucapkan

3 Kata ini sebenarnya terbentuk dalam kalimat, tapi saya simpulkan menjadi kata, yaitu :


1. SAYA TIDAK BISA


Seringkali saat kita dihadapkan dengan suatu target atau pekerjaan yang kelihatannya agak sulit kita cenderung suka berkata, saya tidak bisa.


Anda perlu tahu saat Anda berkata, saya tidak bisa maka dengan segera perkataan Anda hanya akan me
mbuat pintu pikiran Anda tertutup untuk mencari jalan dan mencoba.

Sebaliknya jika Anda berkata saya belum bisa ini masih membuat otak kita bekerja mencari jalan.
Kalau Anda sering mengucapkan kata saya tidak bisa maka ini dapat membatasi kemampuan diri Anda. Sikap merasa tidak bisa juga melumpuhkan potensi dan kreativitas Anda.

Anda juga dapat mengucapkan kata saya coba dulu, setidaknya dengan demikian Anda akan tahu seberapa kemampuan Anda untuk meraih suatu hal.

Untuk menjadi seorang Achiever yang sejati jangan pernah lagi ucapkan kata saya tidak bisa, khususnya dalam hal yang berhubungan dengan kemampuan Anda.

2. TIDAK MUNGKIN

Orang-orang yang sering berkata tidak mungkin akan menutup berbagai pintu keajaiban.

Dengan sikap seperti ini mereka akan sulit meraih sesuatu yang hebat. Karena hampir segala sesuatu yang kita nikmati hari ini adalah sesuatu yang mustahil di hari kemarin. Semua pencapaian yang luar biasa diawali dengan suatu keyakinan bahwa hal itu mungkin dikerjakan atau diwujudkan.

Buktinya kalau Anda perhatikan berbagai peralatan teknologi yang canggih saat ini, mungkin waktu dulu awalnya banyak orang yang menganggap itu sesuatu yang tidak mungkin tapi ternyata sekarang hal itu mungkin untuk diciptakan.
Ini berarti apa saja yang Anda ingin raih saat ini dalam hal karir, keuangan, keluarga, ataupun perkembangan diri Anda, hal itu sangat mungkin dicapai.

Seorang achiever harus belajar melihat setiap kemungkinan dibalik suatu kemustahilan. Ini akan mendatangkan banyak keajaiban terjadi dalam hidup Anda.

3. SAYA SUDAH TAHU

Setiap kali Anda mengucapkan bahwa saya sudah tahu, sebenarnya Anda sedang menutup pintu pembelajaran. Sehingga kita tidak lagi berusaha untuk mempelajari hal-hal baru.

Padahal dalam kehidupan selalu ada hal yang dapat kita pelajari. Kalau Anda membaca buku, menghadiri seminar atau berkomunikasi dengan sikap sok tahu maka Anda tidak akan pernah belajar sesuatu.

Karena para achiever adalah orang yang selalu mau belajar dan ingin mencari tahu.
Ketika seseorang menganggap bahwa dia sudah mengetahui semuanya itu suatu kebodohan.
Kenyataannya semakin Anda benar-benar tahu, semakin Anda menyadari bahwa Anda tidak tahu.
Pengetahuan hanya datang pada orang-orang yang siap menerimanya.

Motivasi Dalam Buddhisme

Motivasi Dalam Buddhisme
Pada umumnya motivasi yang muncul karena didasari kesadaran atau keinginan sendiri (dari dalam) akan lebih kuat dibandingkan motivasi yang dipaksakan orang lain, walaupun pada akhirnya motivasi tersebut bisa juga menjadi kuat setelah hasilnya dirasakan pelakunya. Lihat saja contoh Pangeran Siddharta, tidak ada orang lain yang mendorong Beliau untuk meninggalkan istananya yang mewah, isterinya yang cantik, dan anaknya yang baru lahir, demi mencari obat mujarab untuk mengakhiri penderitaan manusia.

Motivasi yang kuat ataupun lemah terlihat dari tingkah laku sehari-hari. Kebutuhan individu untuk berhasil merupakan salah satu bentuk stimulus/ rangsangan yang mendorong motivasi seseorang. Stimulus adalah hal-hal yang menyebabkan bangkitnya atau timbulnya tanggapan-tanggapan atau tindakan-tindakan tertentu, sedangkan "Respons" adalah tindakan kita terhadap stimulus yang datang.

Berbagai faktor yang menentukan respon kita yaitu : kesadaran diri, imajinasi, hati nurani, dan kekuatan tekad. Agar lebih tepat dalam memilih respons tersebut kita harus menyadari perasaan, emosi, dan kondisi fisik kita, pengaruh dari luar, pengaruh respons kita terhadap kita sendiri maupun orang lain.