Tampilkan postingan dengan label Buddha Gotama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buddha Gotama. Tampilkan semua postingan
Minggu, 19 Februari 2012
Kamis, 16 Februari 2012
Sakkaya Ditthi
Sakkaya Ditthi
Wasapadalah wahai saudara
Janganlah sampai diperdaya
Khayalannya pikiran anda
Nan slalu menggoda
Bak sejuta bintang di langit
Bertaburanlah cita-cita
Khayalkan bahagia abadi
Nan indah selalu
Karna adanya pandangan kliru
Terhadap pikiran itu
Cinta benci sedih girang rindu
Dikau percaya selalu
Semua gerak gerik citta
Hanyalah khayal bohong hampa
Kebodohan mula sebabnya
Timbulkan derita
Wasapadalah wahai saudara
Janganlah sampai diperdaya
Khayalannya pikiran anda
Nan slalu menggoda
Bak sejuta bintang di langit
Bertaburanlah cita-cita
Khayalkan bahagia abadi
Nan indah selalu
Karna adanya pandangan kliru
Terhadap pikiran itu
Cinta benci sedih girang rindu
Dikau percaya selalu
Semua gerak gerik citta
Hanyalah khayal bohong hampa
Kebodohan mula sebabnya
Timbulkan derita
TIGA CORAK KEHIDUPAN (Tilakkhana)
TIGA CORAK KEHIDUPAN
(Tilakkhana)
"Sabbe sankhara anicca`ti. Yada pannaya passati; atha nibbindati dukkhe. Esa maggo visuddhiya."
Segala sesuatu yang berkondisi adalah anicca. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini; maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.
(Dhammapada 277)
"Sabbe sankhara dukkha`ti. Yada pannaya passati; atha nibb indati dukkhe. Esa maggo visuddhiya."
Segala sesuatu yang berkondisi adalah dukkha. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini, maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.
(Dhammapada 278)
"Sabbe dhamma anatta`ti. Yada pannaya passati; atha nibbindati dukkhe. Esa maggo visuddhiya."
Segala dhamma (kebenaran) adalah anatta. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat ini, maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.
(Dhammapada 279)
Tilakkhana atau tiga corak, ciri, karakteristik yaitu anicca, dukkha dan anatta, merupakan tiga corak, ciri, karakteristik yang ada di setiap segala sesuatu atau fenomena yang terbentuk dari perpaduan unsur (berkondisi) yang ada di alam semesta ini, termasuk makhluk hidup. Ciri ini merupakan salah satu bentuk dari Hukum Kebenaran Mutlak (Paramatha-sacca) karena berlaku dimana saja dan kapan saja.
Anicca
Anicca berasal dari kata ”an” yang merupakan bentuk negatif atau sering diterjemahkan sebagai tidak atau bukan. Dan ”nicca” yang berarti tetap, selalu ada, kekal, abadi. Jadi kata ”an-nicca” berarti tidak tetap, tidak selalu ada, tidak kekal, tidak abadi, berubah. Dalam bahasa Sanskerta disebut juga sebagai anitya.
Sabbe sankhara anicca berarti segala sesuatu yang berkondisi, terbentuk dari perpaduan unsur, merupakan sesuatu yang mengalami perubahan, tidak kekal.
Semua fenomena yang ada di dalam alam semesta ini selalu dalam keadaan bergerak dan mengalami proses, yaitu:
Upadana (timbul), kemudian Thiti (berlangsung), dan kemudian Bhanga (berakhir/lenyap).
Mengapa segala fenomena mengalami perubahan atau tidak kekal? Hal ini karena sudah menjadi sifat alami dari segala sesuatu yang terbentuk dari perpaduan unsur akan mengalami perubahan, ketidakkekalan.
Dukkha
Dukkha berasal dari kata ”du” yang berarti sukar dan kata ”kha” yang berarti dipikul, ditahan. Jadi kata ”du-kha” berarti sesuatu atau beban yang sukar untuk dipikul. Jadi kata ”duh-kha” berarti sesuatu atau beban yang sukar untuk dipikul. Pada umumnya dukkha dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai penderitaan, ketidakpuasan, beban.
Sabbe sankhara dukkha berarti segala sesuatu yang berkondisi, terbentuk dari perpaduan unsur, merupakan sesuatu yang tidak memuaskan yang akan menimbulkan beban berat atau penderitaan.
Mengapa segala fenomena tidak memuaskan dan menimbulkan beban berat atau penderitaan? Hal ini dikarenakan segala fenomena tersebut mengalami perubahan, tidak kekal. Dan ketika kita tidak bisa memahami dan menerima bahwa segala fenomena selalu mengalami perubahan, tidak kekal, maka timbul perasaan ketidaksukaan, ketidakpuasan pada diri kita dan akhirnya menimbulkan beban berat atau penderitaan.
Anatta
Anatta berasal dari kata ”an” yang merupakan bentuk negatif atau sering diterjemahkan sebagai tidak atau bukan. Dan ”atta” berarti berarti diri sejati atau inti/`roh`. Dalam bahasa Sanskerta disebut juga sebagai anatman. Jadi kata ”an-atta” berarti bukan diri sejati atau tanpa inti/`roh`.
Sabbe dhamma anatta berarti segala dhamma (kebenaran) yang berkondisi, terbentuk dari perpaduan unsur, dan juga yang tidak berkondisi, tidak terbentuk dari perpaduan unsur merupakan sesuatu yang tidak memiliki inti/`roh` dan bukan diri yang sejati.
Beberapa orang telah salah memahami mengenai ajaran anatta dengan beranggapan bahwa tidak ada diri, tidak ada yang namanya orang/person (puggala). Anggapan ini keliru. Guru Buddha tidak mengajarkan hal ini. Beliau mengajarkan bahwa ada yang disebut dengan diri atau orang/person (puggala), tetapi diri atau orang/person (puggala) tersebut bukanlah benar-benar inti atau jati diri dari diri atau orang (person) tersebut, melainkan hanyalah merupakan perpaduan unsur-unsur yang membentuk, yang membuatnya ada atau eksis yang suatu saat akan mengalami perubahan. Karena perpaduan unsur-unsur inilah diri seseorang terbentuk. Dan karena segala sesuatu yang terbentuk dari perpaduan dari unsur-unsur pasti mengalami perubahan, maka diri seseorang pun mengalami perubahan, penguraian, yang akhirnya eksistensi dari diri seseorang tidak lagi ada atau eksis. Inilah mengapa dikatakan tidak memiliki inti atau bukan diri sejati.
Mengapa segala fenomena tidak ada inti atau bukan diri sejati?
Di dalam Anattalakkhana Sutta; Samyutta Nikaya 22.59 {S 3.66}, Guru Buddha menjelaskan bahwa Rupa (jasmani), Vendana (perasaan), Sanna (pencerapan), Sankhara (pikiran) dan Vinnana (kesadaran) disebut sebagai Panca Khanda (lima kelompok kehidupan/kegemaran) yang semuanya bukanlah diri sejati. Jika Khanda itu merupakan diri sejati, maka tidak akan mengalami penderitaan, dan semua keinginan seseorang akan kandha-nya akan terpenuhi, ”Biarkan Kandha-ku seperti ini dan bukan seperti itu.”
Tetapi karena khanda tidak dapat dikendalikan sesuai dengan keinginan atau harapan seseorang, ” Biarkan Kandha-ku seperti ini dan bukan seperti itu”, dan juga mengalami penderitaan, maka dikatakan bahwa kandha bukanlah diri sejati.
Selain ajaran Anatta yang diajarkan oleh Guru Buddha, di dunia ini terdapat 2 ajaran atau paham lain yang terdapat dalam kepercayaan lain, yaitu:
1. Attavada, yaitu paham atau ajaran yang menyatakan bahwa terdapat atta atau inti atau diri sejati yang tidak mengalami perubahan, yang ada sepanjang masa atau abadi meskipun melalui tahap kelahiran kembali. Paham ini juga disebut sebagai paham Eternalisme (paham ini tidak dibenarkan oleh Sang Buddha).
2. Ucchedavada, yaitu paham atau ajaran yang menyatakan bahwa sama sekali tidak terdapat atta atau diri, dimana ketika mati maka semuanya akan turut lenyap, tidak membentuk apapun lagi, tidak meengalami kelahiran kembali. Paham ini juga disebut sebagai paham Nihilisme (paham ini tidak dibenarkan oleh Sang Buddha).
Beberapa contoh nyata mengenai ajaran Anatta. Ketika kita melihat sebuah sofa maka kita akan melihatnya sebagai hal yang biasa dan menyebutnya sebagai sofa. Tetapi ketika sofa yang terbuat dari kayu, busa, kain, lem, tenaga manusia, dan sebagainya itu kita uraikan, kita pisah-pisahkan, kita bongkar, maka yang kita lihat sekarang hanyalah beberapa potong kayu bekas, kain, busa dan sebagainya yang tidak mungkin sama dengan bahan awal pembuat sofa. Kita hanya menyebutnya sebagai sisa sofa, kain bekas sofa, kayu bekas sofa, dan sebagainya. Kita tidak akan melihat lagi sofa tadi.
Contoh lain tentang ajaran Anatta, ketika kita membuat roti. Roti dibuat dengan memakai tepung, ragi, gula, garam, mentega, susu, air, api, tenaga kerja dan lain-lain Tetapi setelah menjadi roti tidak mungkin kita akan menunjuk satu bagian tertentu dan mengatakan: ini adalah tepungnya, ini garamnya, ini menteganya, ini airnya, ini apinya, ini tenaga kerjanya dst. Karena setelah bahan-bahan itu diaduk menjadi satu dan dibakar di oven, maka bahan-bahan itu telah berubah sama sekali. Meskipun roti itu terdiri dari bahan-bahan yang tersebut di atas, namun setelah melalui proses pembuatan dan pembakaran di oven telah menjadi sesuatu yang baru sama sekali dan tidak mungkin lagi untuk mengembalikannya dalam bentuknya yang semula.
Pemahaman akan ajaran anatta dapat juga dianalisa dan direnungkan dalam ajaran mengenai Sebab-Musabab yang Saling Bergantungan (Paticcasamuppada).
(Tilakkhana)
"Sabbe sankhara anicca`ti. Yada pannaya passati; atha nibbindati dukkhe. Esa maggo visuddhiya."
Segala sesuatu yang berkondisi adalah anicca. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini; maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.
(Dhammapada 277)
"Sabbe sankhara dukkha`ti. Yada pannaya passati; atha nibb indati dukkhe. Esa maggo visuddhiya."
Segala sesuatu yang berkondisi adalah dukkha. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini, maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.
(Dhammapada 278)
"Sabbe dhamma anatta`ti. Yada pannaya passati; atha nibbindati dukkhe. Esa maggo visuddhiya."
Segala dhamma (kebenaran) adalah anatta. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat ini, maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian.
(Dhammapada 279)
Tilakkhana atau tiga corak, ciri, karakteristik yaitu anicca, dukkha dan anatta, merupakan tiga corak, ciri, karakteristik yang ada di setiap segala sesuatu atau fenomena yang terbentuk dari perpaduan unsur (berkondisi) yang ada di alam semesta ini, termasuk makhluk hidup. Ciri ini merupakan salah satu bentuk dari Hukum Kebenaran Mutlak (Paramatha-sacca) karena berlaku dimana saja dan kapan saja.
Anicca
Anicca berasal dari kata ”an” yang merupakan bentuk negatif atau sering diterjemahkan sebagai tidak atau bukan. Dan ”nicca” yang berarti tetap, selalu ada, kekal, abadi. Jadi kata ”an-nicca” berarti tidak tetap, tidak selalu ada, tidak kekal, tidak abadi, berubah. Dalam bahasa Sanskerta disebut juga sebagai anitya.
Sabbe sankhara anicca berarti segala sesuatu yang berkondisi, terbentuk dari perpaduan unsur, merupakan sesuatu yang mengalami perubahan, tidak kekal.
Semua fenomena yang ada di dalam alam semesta ini selalu dalam keadaan bergerak dan mengalami proses, yaitu:
Upadana (timbul), kemudian Thiti (berlangsung), dan kemudian Bhanga (berakhir/lenyap).
Mengapa segala fenomena mengalami perubahan atau tidak kekal? Hal ini karena sudah menjadi sifat alami dari segala sesuatu yang terbentuk dari perpaduan unsur akan mengalami perubahan, ketidakkekalan.
Dukkha
Dukkha berasal dari kata ”du” yang berarti sukar dan kata ”kha” yang berarti dipikul, ditahan. Jadi kata ”du-kha” berarti sesuatu atau beban yang sukar untuk dipikul. Jadi kata ”duh-kha” berarti sesuatu atau beban yang sukar untuk dipikul. Pada umumnya dukkha dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai penderitaan, ketidakpuasan, beban.
Sabbe sankhara dukkha berarti segala sesuatu yang berkondisi, terbentuk dari perpaduan unsur, merupakan sesuatu yang tidak memuaskan yang akan menimbulkan beban berat atau penderitaan.
Mengapa segala fenomena tidak memuaskan dan menimbulkan beban berat atau penderitaan? Hal ini dikarenakan segala fenomena tersebut mengalami perubahan, tidak kekal. Dan ketika kita tidak bisa memahami dan menerima bahwa segala fenomena selalu mengalami perubahan, tidak kekal, maka timbul perasaan ketidaksukaan, ketidakpuasan pada diri kita dan akhirnya menimbulkan beban berat atau penderitaan.
Anatta
Anatta berasal dari kata ”an” yang merupakan bentuk negatif atau sering diterjemahkan sebagai tidak atau bukan. Dan ”atta” berarti berarti diri sejati atau inti/`roh`. Dalam bahasa Sanskerta disebut juga sebagai anatman. Jadi kata ”an-atta” berarti bukan diri sejati atau tanpa inti/`roh`.
Sabbe dhamma anatta berarti segala dhamma (kebenaran) yang berkondisi, terbentuk dari perpaduan unsur, dan juga yang tidak berkondisi, tidak terbentuk dari perpaduan unsur merupakan sesuatu yang tidak memiliki inti/`roh` dan bukan diri yang sejati.
Beberapa orang telah salah memahami mengenai ajaran anatta dengan beranggapan bahwa tidak ada diri, tidak ada yang namanya orang/person (puggala). Anggapan ini keliru. Guru Buddha tidak mengajarkan hal ini. Beliau mengajarkan bahwa ada yang disebut dengan diri atau orang/person (puggala), tetapi diri atau orang/person (puggala) tersebut bukanlah benar-benar inti atau jati diri dari diri atau orang (person) tersebut, melainkan hanyalah merupakan perpaduan unsur-unsur yang membentuk, yang membuatnya ada atau eksis yang suatu saat akan mengalami perubahan. Karena perpaduan unsur-unsur inilah diri seseorang terbentuk. Dan karena segala sesuatu yang terbentuk dari perpaduan dari unsur-unsur pasti mengalami perubahan, maka diri seseorang pun mengalami perubahan, penguraian, yang akhirnya eksistensi dari diri seseorang tidak lagi ada atau eksis. Inilah mengapa dikatakan tidak memiliki inti atau bukan diri sejati.
Mengapa segala fenomena tidak ada inti atau bukan diri sejati?
Di dalam Anattalakkhana Sutta; Samyutta Nikaya 22.59 {S 3.66}, Guru Buddha menjelaskan bahwa Rupa (jasmani), Vendana (perasaan), Sanna (pencerapan), Sankhara (pikiran) dan Vinnana (kesadaran) disebut sebagai Panca Khanda (lima kelompok kehidupan/kegemaran) yang semuanya bukanlah diri sejati. Jika Khanda itu merupakan diri sejati, maka tidak akan mengalami penderitaan, dan semua keinginan seseorang akan kandha-nya akan terpenuhi, ”Biarkan Kandha-ku seperti ini dan bukan seperti itu.”
Tetapi karena khanda tidak dapat dikendalikan sesuai dengan keinginan atau harapan seseorang, ” Biarkan Kandha-ku seperti ini dan bukan seperti itu”, dan juga mengalami penderitaan, maka dikatakan bahwa kandha bukanlah diri sejati.
Selain ajaran Anatta yang diajarkan oleh Guru Buddha, di dunia ini terdapat 2 ajaran atau paham lain yang terdapat dalam kepercayaan lain, yaitu:
1. Attavada, yaitu paham atau ajaran yang menyatakan bahwa terdapat atta atau inti atau diri sejati yang tidak mengalami perubahan, yang ada sepanjang masa atau abadi meskipun melalui tahap kelahiran kembali. Paham ini juga disebut sebagai paham Eternalisme (paham ini tidak dibenarkan oleh Sang Buddha).
2. Ucchedavada, yaitu paham atau ajaran yang menyatakan bahwa sama sekali tidak terdapat atta atau diri, dimana ketika mati maka semuanya akan turut lenyap, tidak membentuk apapun lagi, tidak meengalami kelahiran kembali. Paham ini juga disebut sebagai paham Nihilisme (paham ini tidak dibenarkan oleh Sang Buddha).
Beberapa contoh nyata mengenai ajaran Anatta. Ketika kita melihat sebuah sofa maka kita akan melihatnya sebagai hal yang biasa dan menyebutnya sebagai sofa. Tetapi ketika sofa yang terbuat dari kayu, busa, kain, lem, tenaga manusia, dan sebagainya itu kita uraikan, kita pisah-pisahkan, kita bongkar, maka yang kita lihat sekarang hanyalah beberapa potong kayu bekas, kain, busa dan sebagainya yang tidak mungkin sama dengan bahan awal pembuat sofa. Kita hanya menyebutnya sebagai sisa sofa, kain bekas sofa, kayu bekas sofa, dan sebagainya. Kita tidak akan melihat lagi sofa tadi.
Contoh lain tentang ajaran Anatta, ketika kita membuat roti. Roti dibuat dengan memakai tepung, ragi, gula, garam, mentega, susu, air, api, tenaga kerja dan lain-lain Tetapi setelah menjadi roti tidak mungkin kita akan menunjuk satu bagian tertentu dan mengatakan: ini adalah tepungnya, ini garamnya, ini menteganya, ini airnya, ini apinya, ini tenaga kerjanya dst. Karena setelah bahan-bahan itu diaduk menjadi satu dan dibakar di oven, maka bahan-bahan itu telah berubah sama sekali. Meskipun roti itu terdiri dari bahan-bahan yang tersebut di atas, namun setelah melalui proses pembuatan dan pembakaran di oven telah menjadi sesuatu yang baru sama sekali dan tidak mungkin lagi untuk mengembalikannya dalam bentuknya yang semula.
Pemahaman akan ajaran anatta dapat juga dianalisa dan direnungkan dalam ajaran mengenai Sebab-Musabab yang Saling Bergantungan (Paticcasamuppada).
Yang Merupakan Ajaran Sang Buddha
Yang Merupakan Ajaran Sang Buddha
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhasa
”Ada kemungkinan, bahwa di antara kalian ada yang berpikir: ‘Berakhirlah kata-kata Sang Guru;
kita tidak mempunyai seorang Guru lagi.’ Tetapi, Ananda, hendaknya
tidak berpikir demikian. Sebab apa yang telah Aku ajarkan sebagai Dhamma
... dan Vinaya, Ananda, itulah kelak yang menjadi Guru-mu, ketika Aku
pergi.”
(Mah aparinibbana Sutta, Digha Nikaya 16)
Dewasa ini banyak di antara kita
yang dibingungkan oleh kehadiran kelompok-kelompok yang mengajarkan
suatu ajaran dengan mengatasnamakan Buddhisme. Banyak pertanyaan yang
dilontarkan seperti : Apakah kelompok ini adalah salah satu aliran
Buddhisme ? Apakah aliran ini merupakan aliran sesat ? Apakah ajaran ini
merupakan ajaran yang diajarkan oleh Sang Buddha ? Dan sebagainya.
Dari kebingungan tersebut timbul sebuah pertanyaan : Bagaimana kita membedakan mana yang merupakan ajaran yang diajarkan oleh Sang Buddha dengan mana yang bukan ? Apakah Sang Buddha pernah memberikan petunjuk untuk menangani masalah ini ? Jawabannya ya, Sang Buddha telah memberikan petunjuk untuk menangani masalah ini.
Di bumi ini tidak ada Guru lain seperti Sang Buddha. Sang Buddha
adalah Guru yang penuh dengan ketelitian, memiliki kecermatan, dan
pandangan luas ke depan. Di saat-saat menjelang Parnibbana, sebelum Ia
Parinibbana, Ia sudah mempersiapkan, dan memastikan secara benar
kesiapan, keutuhan apa yang telah Beliau temukan dan Beliau rintis yaitu
keberadaan Dhamma, Vinaya, dan Sangha.
Beliau mengatakan bahwa yang menggantian Beliau setelah Ia tiada
bukanlah salah satu siswa UtamaNya, bukan Y.A. Maha Kasappa yang ahli
dalam latihan, bukan Y.A. Upali yang ahli dalam Vinaya, dan bukan juga
Ananda yang merupakan Bendahara Dhamma. Tetapi yang menggantikan Beliau
sebagai Guru bagi para siswaNya adalah Dhamma (ajaran) dan Vinaya (tata
tertib). Selain untuk menghindari perselisihan , hal ini ditetapkan juga
untuk menghindari pengkultusan individu di masa yang akan datang yang
akan menimbulkan kemelekatan pada diri seseorang, dan ini akan
mengganggu pencapaian seseorang.
Dengan demikian setelah Sang Buddha parinibbana sampai sekarang tidak ada pengganti diriNya selain Dhamma dan Vinaya.
Lebih jauh seseorang mungkin akan
bertanya, ”Bagaimana kita mengetahui dan memastikan bahwa Dhamma dan
Vinaya yang kita pelajari sekarang adalah Dhamma dan Vinaya yang di
ajarkan oleh Sang Buddha?” Pertanyaan kritis ini sangat penting karena akan menepis kepercayaan membuta terhadap suatu ajaran.
Jauh sebelum Sang Buddha
Parinibbana, Ia juga telah memberikan batasan mengenai apa-apa saja
yang termasuk dalam Dhamma dan Vinaya. Hal ini berguna untuk membedakan
mana yang merupakan ajaran Sang Buddha dan mana yang bukan, yang mana Dhamma dan yang mana Vinaya.
Dalam Paticchanna Sutta (Anguttara Nikaya III.129), Sang Buddha
menjelaskan kepada para bhikku mengenai ciri dari Dhamma dan Vinaya
yang dapat dilihat dari penampilan dan penyampaiannya.
“Tiga hal ini, para bhikkhu,
dilakukan secara tersembunyi, bukan secara terbuka. Apakah tiga hal itu?
Bercinta dengan wanita, para bhikku, dilakukan secara tersembunyi,
bukan secara terbuka; mantra para brahmana, para bhikkhu, dilakukan
secara tersembunyi, bukan secara terbuka; pandangan salah, para bhikkhu,
dilakukan secara tersembunyi, bukan secara terbuka. Itulah tiga hal,
para bhikkhu, yang dilakukan secara tersembunyi, bukan secara terbuka.”
“Tiga hal ini, para bhikkhu,
bersinar secara terbuka, bukan secara tersembunyi. Apakah tiga hal itu?
Lingkaran rembulan, para bhikku, bersinar secara terbuka, bukan secara
tersembunyi; lingkaran matahari, para bhikkhu, bersinar secara terbuka,
bukan secara tersembunyi; Dhamma dan Vinaya yang disampaikan oleh
Tathagata, para bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara
tersembunyi. Itulah tiga hal, para bhikkhu, yang bersinar secara
terbuka, bukan secara tersembunyi.”
Selanjutnya dalam Gotami Sutta (Anguttara Nikaya VIII. 53) , Sang Buddha menjelaskan kepada Y.A. Mahapajapati Gotami:
“Bila, Gotami, engkau
mengetahui hal-hal secara pasti: ‘Hal-hal ini menuju pada nafsu, bukan
pada tanpa-nafsu; pada kemelekatan, bukan pada tanpa-kemelekatan; pada
pengumpulan, bukan pada pelepasan; pada memiliki banyak keinginan, bukan
pada memiliki sedikit keinginan; pada ketidakpuasan, bukan pada
kepuasan; pada suka berkumpul, bukan pada kesendirian; pada kelambanan,
bukan pada kebangkitan semangat; pada kehidupan yang mewah, bukan pada
kesederhanaan’ – tentang hal-hal ini engkau bisa merasa pasti: ‘Ini
bukanlah Dhamma; ini bukanlah Vinaya; ini bukanlah Ajaran Sang Guru.’”
“Tetapi, Gotami, bila engkau
mengetahui hal-hal secara pasti: ‘Hal-hal ini menuju pada tanpa-nafsu,
bukan pada nafsu; pada tanpa-kemelekatan, bukan pada kemelekatan; pada
pelepasan, bukan pada pengumpulan; pada memiliki sedikit keinginan,
bukan pada memiliki banyak keinginan; pada kepuasan, bukan pada
ketidakpuasan; pada kesendirian, bukan pada berkumpul; pada kebangkitan
semangat, bukan pada kelambanan; pada kesederhanaan, bukan pada
kehidupan mewah’ – tentang hal-hal ini engkau bisa merasa pasti: ‘Ini
adalah Dhamma; ini adalah Vinaya; ini adalah Ajaran Sang Guru.’”
Begitu juga dalam SatthuSasana Sutta (Anguttara Nikaya VII. 80) , Sang Buddha menjelaskan kepada Y.A. Upali :
“Upali, jika engkau mengetahui
tentang hal-hal tertentu: ‘Hal-hal ini tidak membawa menuju perubahan
sepenuhnya, hilangnya nafsu, penghentian dan kedamaian, menuju
pengetahuan langsung, pencerahan spiritual dan Nibbana’ – dari
ajaran-ajaran seperti itu engkau bisa merasa yakin: ‘Ini bukan Dhamma;
ini bukan Vinaya; ini bukan Ajaran Sang Guru.’”
“Tetapi Upali, jika engkau
mengetahui tentang hal-hal tertentu: ‘Hal-hal ini membawa menuju
perubahan sepenuhnya, hilangnya nafsu, penghentian dan kedamaian, menuju
pengetahuan langsung, pencerahan spiritual dan Nibbana’ – dari hal-hal
semacam itu engkau bisa merasa yakin: ‘Inilah Dhamma; inilah Vinaya;
inilah Ajaran Sang Guru.’”
Dari petunjuk Sang Buddha
berupa kriteria Dhamma dan Vinaya dalam Paticchanna Sutta, Gotami Sutta
maupun SatthuSasana Sutta kita bisa melihat, menganalisa, meneliti
secara hati-hati terhadap berbagai macam ajaran yang kita temui dewasa
ini, sehingga kita bisa menemukan mana yang bukan ajaran Sang Buddha (yang menyimpang dari ajaran Sang Buddha), dan mana yang merupakan ajaran Sang Buddha.
Misalnya, ketika kita menemukan
sebuah ajaran yang diajarkan secara sembunyi-sembunyi, dirahasiakan dan
dengan syarat-syarat tertentu sehingga hanya beberapa orang saja yang
boleh mengetahuinya, maka mengacu pada Paticchanna Sutta, ajaran
tersebut bukanlah Dhamma dan Vinaya yang dibabarkan oleh Sang Buddha, dan kita bisa menghindari atau menolak ajaran seperti itu. Dhamma dan Vinaya yang dibabarkan oleh Sang Buddha
tidaklah diajarkan secara sembunyi-sembunyi, tidak di rahasiakan,
tetapi Dhamma dan Vinaya diajarkan secara terbuka, terang benderang
sehingga semua kalangan dapat mengetahuinya.
Atau suatu ketika kita menemukan
sebuah ajaran yang mengajarkan untuk membunuh dengan alasan tertentu,
kita bisa menjadikan penjelasan Sang Budda
dalam Gotami Sutta dan SatthuSasana Sutta mengenai apa itu Dhamma dan
Vinaya sebagai panduan. Setelah kita menganalisanya, dan kita mengetahui
bahwa membunuh itu menuju pada nafsu dan tidak menuju pada pelepasan,
maka ajaran yang mengajarkan untuk membunuh tersebut bukan merupakan
Dhamma dan Vinaya, bukan ajaran Sang Buddha. Dan kita perlu menghindarinya.
Dari apa yang disampaikan di atas,
semoga kebingungan kita untuk membedakan antara mana yang merupakan
ajaran Guru Buddha atau bukan, yang merupakan Dhamma dan Vinaya atau
bukan, serta yang merupakan aliran Buddhisme atau bukan, dapat kita
ketahui dan pahami secara jelas.
Semoga semua makhluk bebas dari penderitaan.
Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhasa
”Ada kemungkinan, bahwa di antara kalian ada yang berpikir: ‘Berakhirlah kata-kata Sang Guru;
kita tidak mempunyai seorang Guru lagi.’ Tetapi, Ananda, hendaknya
tidak berpikir demikian. Sebab apa yang telah Aku ajarkan sebagai Dhamma
... dan Vinaya, Ananda, itulah kelak yang menjadi Guru-mu, ketika Aku
pergi.”
(Mah aparinibbana Sutta, Digha Nikaya 16)
Dewasa ini banyak di antara kita
yang dibingungkan oleh kehadiran kelompok-kelompok yang mengajarkan
suatu ajaran dengan mengatasnamakan Buddhisme. Banyak pertanyaan yang
dilontarkan seperti : Apakah kelompok ini adalah salah satu aliran
Buddhisme ? Apakah aliran ini merupakan aliran sesat ? Apakah ajaran ini
merupakan ajaran yang diajarkan oleh Sang Buddha ? Dan sebagainya.
Dari kebingungan tersebut timbul sebuah pertanyaan : Bagaimana kita membedakan mana yang merupakan ajaran yang diajarkan oleh Sang Buddha dengan mana yang bukan ? Apakah Sang Buddha pernah memberikan petunjuk untuk menangani masalah ini ? Jawabannya ya, Sang Buddha telah memberikan petunjuk untuk menangani masalah ini.
Di bumi ini tidak ada Guru lain seperti Sang Buddha. Sang Buddha
adalah Guru yang penuh dengan ketelitian, memiliki kecermatan, dan
pandangan luas ke depan. Di saat-saat menjelang Parnibbana, sebelum Ia
Parinibbana, Ia sudah mempersiapkan, dan memastikan secara benar
kesiapan, keutuhan apa yang telah Beliau temukan dan Beliau rintis yaitu
keberadaan Dhamma, Vinaya, dan Sangha.
Beliau mengatakan bahwa yang menggantian Beliau setelah Ia tiada
bukanlah salah satu siswa UtamaNya, bukan Y.A. Maha Kasappa yang ahli
dalam latihan, bukan Y.A. Upali yang ahli dalam Vinaya, dan bukan juga
Ananda yang merupakan Bendahara Dhamma. Tetapi yang menggantikan Beliau
sebagai Guru bagi para siswaNya adalah Dhamma (ajaran) dan Vinaya (tata
tertib). Selain untuk menghindari perselisihan , hal ini ditetapkan juga
untuk menghindari pengkultusan individu di masa yang akan datang yang
akan menimbulkan kemelekatan pada diri seseorang, dan ini akan
mengganggu pencapaian seseorang.
Dengan demikian setelah Sang Buddha parinibbana sampai sekarang tidak ada pengganti diriNya selain Dhamma dan Vinaya.
Lebih jauh seseorang mungkin akan
bertanya, ”Bagaimana kita mengetahui dan memastikan bahwa Dhamma dan
Vinaya yang kita pelajari sekarang adalah Dhamma dan Vinaya yang di
ajarkan oleh Sang Buddha?” Pertanyaan kritis ini sangat penting karena akan menepis kepercayaan membuta terhadap suatu ajaran.
Jauh sebelum Sang Buddha
Parinibbana, Ia juga telah memberikan batasan mengenai apa-apa saja
yang termasuk dalam Dhamma dan Vinaya. Hal ini berguna untuk membedakan
mana yang merupakan ajaran Sang Buddha dan mana yang bukan, yang mana Dhamma dan yang mana Vinaya.
Dalam Paticchanna Sutta (Anguttara Nikaya III.129), Sang Buddha
menjelaskan kepada para bhikku mengenai ciri dari Dhamma dan Vinaya
yang dapat dilihat dari penampilan dan penyampaiannya.
“Tiga hal ini, para bhikkhu,
dilakukan secara tersembunyi, bukan secara terbuka. Apakah tiga hal itu?
Bercinta dengan wanita, para bhikku, dilakukan secara tersembunyi,
bukan secara terbuka; mantra para brahmana, para bhikkhu, dilakukan
secara tersembunyi, bukan secara terbuka; pandangan salah, para bhikkhu,
dilakukan secara tersembunyi, bukan secara terbuka. Itulah tiga hal,
para bhikkhu, yang dilakukan secara tersembunyi, bukan secara terbuka.”
“Tiga hal ini, para bhikkhu,
bersinar secara terbuka, bukan secara tersembunyi. Apakah tiga hal itu?
Lingkaran rembulan, para bhikku, bersinar secara terbuka, bukan secara
tersembunyi; lingkaran matahari, para bhikkhu, bersinar secara terbuka,
bukan secara tersembunyi; Dhamma dan Vinaya yang disampaikan oleh
Tathagata, para bhikkhu, bersinar secara terbuka, bukan secara
tersembunyi. Itulah tiga hal, para bhikkhu, yang bersinar secara
terbuka, bukan secara tersembunyi.”
Selanjutnya dalam Gotami Sutta (Anguttara Nikaya VIII. 53) , Sang Buddha menjelaskan kepada Y.A. Mahapajapati Gotami:
“Bila, Gotami, engkau
mengetahui hal-hal secara pasti: ‘Hal-hal ini menuju pada nafsu, bukan
pada tanpa-nafsu; pada kemelekatan, bukan pada tanpa-kemelekatan; pada
pengumpulan, bukan pada pelepasan; pada memiliki banyak keinginan, bukan
pada memiliki sedikit keinginan; pada ketidakpuasan, bukan pada
kepuasan; pada suka berkumpul, bukan pada kesendirian; pada kelambanan,
bukan pada kebangkitan semangat; pada kehidupan yang mewah, bukan pada
kesederhanaan’ – tentang hal-hal ini engkau bisa merasa pasti: ‘Ini
bukanlah Dhamma; ini bukanlah Vinaya; ini bukanlah Ajaran Sang Guru.’”
“Tetapi, Gotami, bila engkau
mengetahui hal-hal secara pasti: ‘Hal-hal ini menuju pada tanpa-nafsu,
bukan pada nafsu; pada tanpa-kemelekatan, bukan pada kemelekatan; pada
pelepasan, bukan pada pengumpulan; pada memiliki sedikit keinginan,
bukan pada memiliki banyak keinginan; pada kepuasan, bukan pada
ketidakpuasan; pada kesendirian, bukan pada berkumpul; pada kebangkitan
semangat, bukan pada kelambanan; pada kesederhanaan, bukan pada
kehidupan mewah’ – tentang hal-hal ini engkau bisa merasa pasti: ‘Ini
adalah Dhamma; ini adalah Vinaya; ini adalah Ajaran Sang Guru.’”
Begitu juga dalam SatthuSasana Sutta (Anguttara Nikaya VII. 80) , Sang Buddha menjelaskan kepada Y.A. Upali :
“Upali, jika engkau mengetahui
tentang hal-hal tertentu: ‘Hal-hal ini tidak membawa menuju perubahan
sepenuhnya, hilangnya nafsu, penghentian dan kedamaian, menuju
pengetahuan langsung, pencerahan spiritual dan Nibbana’ – dari
ajaran-ajaran seperti itu engkau bisa merasa yakin: ‘Ini bukan Dhamma;
ini bukan Vinaya; ini bukan Ajaran Sang Guru.’”
“Tetapi Upali, jika engkau
mengetahui tentang hal-hal tertentu: ‘Hal-hal ini membawa menuju
perubahan sepenuhnya, hilangnya nafsu, penghentian dan kedamaian, menuju
pengetahuan langsung, pencerahan spiritual dan Nibbana’ – dari hal-hal
semacam itu engkau bisa merasa yakin: ‘Inilah Dhamma; inilah Vinaya;
inilah Ajaran Sang Guru.’”
Dari petunjuk Sang Buddha
berupa kriteria Dhamma dan Vinaya dalam Paticchanna Sutta, Gotami Sutta
maupun SatthuSasana Sutta kita bisa melihat, menganalisa, meneliti
secara hati-hati terhadap berbagai macam ajaran yang kita temui dewasa
ini, sehingga kita bisa menemukan mana yang bukan ajaran Sang Buddha (yang menyimpang dari ajaran Sang Buddha), dan mana yang merupakan ajaran Sang Buddha.
Misalnya, ketika kita menemukan
sebuah ajaran yang diajarkan secara sembunyi-sembunyi, dirahasiakan dan
dengan syarat-syarat tertentu sehingga hanya beberapa orang saja yang
boleh mengetahuinya, maka mengacu pada Paticchanna Sutta, ajaran
tersebut bukanlah Dhamma dan Vinaya yang dibabarkan oleh Sang Buddha, dan kita bisa menghindari atau menolak ajaran seperti itu. Dhamma dan Vinaya yang dibabarkan oleh Sang Buddha
tidaklah diajarkan secara sembunyi-sembunyi, tidak di rahasiakan,
tetapi Dhamma dan Vinaya diajarkan secara terbuka, terang benderang
sehingga semua kalangan dapat mengetahuinya.
Atau suatu ketika kita menemukan
sebuah ajaran yang mengajarkan untuk membunuh dengan alasan tertentu,
kita bisa menjadikan penjelasan Sang Budda
dalam Gotami Sutta dan SatthuSasana Sutta mengenai apa itu Dhamma dan
Vinaya sebagai panduan. Setelah kita menganalisanya, dan kita mengetahui
bahwa membunuh itu menuju pada nafsu dan tidak menuju pada pelepasan,
maka ajaran yang mengajarkan untuk membunuh tersebut bukan merupakan
Dhamma dan Vinaya, bukan ajaran Sang Buddha. Dan kita perlu menghindarinya.
Dari apa yang disampaikan di atas,
semoga kebingungan kita untuk membedakan antara mana yang merupakan
ajaran Guru Buddha atau bukan, yang merupakan Dhamma dan Vinaya atau
bukan, serta yang merupakan aliran Buddhisme atau bukan, dapat kita
ketahui dan pahami secara jelas.
Semoga semua makhluk bebas dari penderitaan.
3 Kata yang Sebaiknya Tidak Sering Anda Ucapkan
3 Kata yang Sebaiknya Tidak Sering Anda Ucapkan
3 Kata ini sebenarnya terbentuk dalam kalimat, tapi saya simpulkan menjadi kata, yaitu :
1. SAYA TIDAK BISA
Seringkali saat kita dihadapkan dengan suatu target atau pekerjaan yang kelihatannya agak sulit kita cenderung suka berkata, saya tidak bisa.
Anda perlu tahu saat Anda berkata, saya tidak bisa maka dengan segera perkataan Anda hanya akan me mbuat pintu pikiran Anda tertutup untuk mencari jalan dan mencoba.
Sebaliknya jika Anda berkata saya belum bisa ini masih membuat otak kita bekerja mencari jalan.
Kalau Anda sering mengucapkan kata saya tidak bisa maka ini dapat membatasi kemampuan diri Anda. Sikap merasa tidak bisa juga melumpuhkan potensi dan kreativitas Anda.
Anda juga dapat mengucapkan kata saya coba dulu, setidaknya dengan demikian Anda akan tahu seberapa kemampuan Anda untuk meraih suatu hal.
Untuk menjadi seorang Achiever yang sejati jangan pernah lagi ucapkan kata saya tidak bisa, khususnya dalam hal yang berhubungan dengan kemampuan Anda.
2. TIDAK MUNGKIN
Orang-orang yang sering berkata tidak mungkin akan menutup berbagai pintu keajaiban.
Dengan sikap seperti ini mereka akan sulit meraih sesuatu yang hebat. Karena hampir segala sesuatu yang kita nikmati hari ini adalah sesuatu yang mustahil di hari kemarin. Semua pencapaian yang luar biasa diawali dengan suatu keyakinan bahwa hal itu mungkin dikerjakan atau diwujudkan.
Buktinya kalau Anda perhatikan berbagai peralatan teknologi yang canggih saat ini, mungkin waktu dulu awalnya banyak orang yang menganggap itu sesuatu yang tidak mungkin tapi ternyata sekarang hal itu mungkin untuk diciptakan.
Ini berarti apa saja yang Anda ingin raih saat ini dalam hal karir, keuangan, keluarga, ataupun perkembangan diri Anda, hal itu sangat mungkin dicapai.
Seorang achiever harus belajar melihat setiap kemungkinan dibalik suatu kemustahilan. Ini akan mendatangkan banyak keajaiban terjadi dalam hidup Anda.
3. SAYA SUDAH TAHU
Setiap kali Anda mengucapkan bahwa saya sudah tahu, sebenarnya Anda sedang menutup pintu pembelajaran. Sehingga kita tidak lagi berusaha untuk mempelajari hal-hal baru.
Padahal dalam kehidupan selalu ada hal yang dapat kita pelajari. Kalau Anda membaca buku, menghadiri seminar atau berkomunikasi dengan sikap sok tahu maka Anda tidak akan pernah belajar sesuatu.
Karena para achiever adalah orang yang selalu mau belajar dan ingin mencari tahu.
Ketika seseorang menganggap bahwa dia sudah mengetahui semuanya itu suatu kebodohan.
Kenyataannya semakin Anda benar-benar tahu, semakin Anda menyadari bahwa Anda tidak tahu.
Pengetahuan hanya datang pada orang-orang yang siap menerimanya.
3 Kata ini sebenarnya terbentuk dalam kalimat, tapi saya simpulkan menjadi kata, yaitu :
1. SAYA TIDAK BISA
Seringkali saat kita dihadapkan dengan suatu target atau pekerjaan yang kelihatannya agak sulit kita cenderung suka berkata, saya tidak bisa.
Anda perlu tahu saat Anda berkata, saya tidak bisa maka dengan segera perkataan Anda hanya akan me mbuat pintu pikiran Anda tertutup untuk mencari jalan dan mencoba.
Sebaliknya jika Anda berkata saya belum bisa ini masih membuat otak kita bekerja mencari jalan.
Kalau Anda sering mengucapkan kata saya tidak bisa maka ini dapat membatasi kemampuan diri Anda. Sikap merasa tidak bisa juga melumpuhkan potensi dan kreativitas Anda.
Anda juga dapat mengucapkan kata saya coba dulu, setidaknya dengan demikian Anda akan tahu seberapa kemampuan Anda untuk meraih suatu hal.
Untuk menjadi seorang Achiever yang sejati jangan pernah lagi ucapkan kata saya tidak bisa, khususnya dalam hal yang berhubungan dengan kemampuan Anda.
2. TIDAK MUNGKIN
Orang-orang yang sering berkata tidak mungkin akan menutup berbagai pintu keajaiban.
Dengan sikap seperti ini mereka akan sulit meraih sesuatu yang hebat. Karena hampir segala sesuatu yang kita nikmati hari ini adalah sesuatu yang mustahil di hari kemarin. Semua pencapaian yang luar biasa diawali dengan suatu keyakinan bahwa hal itu mungkin dikerjakan atau diwujudkan.
Buktinya kalau Anda perhatikan berbagai peralatan teknologi yang canggih saat ini, mungkin waktu dulu awalnya banyak orang yang menganggap itu sesuatu yang tidak mungkin tapi ternyata sekarang hal itu mungkin untuk diciptakan.
Ini berarti apa saja yang Anda ingin raih saat ini dalam hal karir, keuangan, keluarga, ataupun perkembangan diri Anda, hal itu sangat mungkin dicapai.
Seorang achiever harus belajar melihat setiap kemungkinan dibalik suatu kemustahilan. Ini akan mendatangkan banyak keajaiban terjadi dalam hidup Anda.
3. SAYA SUDAH TAHU
Setiap kali Anda mengucapkan bahwa saya sudah tahu, sebenarnya Anda sedang menutup pintu pembelajaran. Sehingga kita tidak lagi berusaha untuk mempelajari hal-hal baru.
Padahal dalam kehidupan selalu ada hal yang dapat kita pelajari. Kalau Anda membaca buku, menghadiri seminar atau berkomunikasi dengan sikap sok tahu maka Anda tidak akan pernah belajar sesuatu.
Karena para achiever adalah orang yang selalu mau belajar dan ingin mencari tahu.
Ketika seseorang menganggap bahwa dia sudah mengetahui semuanya itu suatu kebodohan.
Kenyataannya semakin Anda benar-benar tahu, semakin Anda menyadari bahwa Anda tidak tahu.
Pengetahuan hanya datang pada orang-orang yang siap menerimanya.
Motivasi Dalam Buddhisme
Motivasi Dalam Buddhisme
Pada umumnya motivasi yang muncul karena didasari kesadaran atau
keinginan sendiri (dari dalam) akan lebih kuat dibandingkan motivasi
yang dipaksakan orang lain, walaupun pada akhirnya motivasi tersebut
bisa juga menjadi kuat setelah hasilnya dirasakan pelakunya. Lihat saja
contoh Pangeran Siddharta, tidak ada orang lain yang mendorong Beliau
untuk meninggalkan istananya yang mewah, isterinya yang cantik, dan
anaknya yang baru lahir, demi mencari obat mujarab untuk mengakhiri
penderitaan manusia.
Motivasi yang kuat ataupun lemah terlihat
dari tingkah laku sehari-hari. Kebutuhan individu untuk berhasil
merupakan salah satu bentuk stimulus/ rangsangan yang mendorong motivasi
seseorang. Stimulus adalah hal-hal yang menyebabkan bangkitnya atau
timbulnya tanggapan-tanggapan atau tindakan-tindakan tertentu, sedangkan
"Respons" adalah tindakan kita terhadap stimulus yang datang.
Berbagai faktor yang menentukan respon kita yaitu : kesadaran diri,
imajinasi, hati nurani, dan kekuatan tekad. Agar lebih tepat dalam
memilih respons tersebut kita harus menyadari perasaan, emosi, dan
kondisi fisik kita, pengaruh dari luar, pengaruh respons kita terhadap
kita sendiri maupun orang lain.
Langganan:
Postingan (Atom)



